Kolaborasi Lintas Sektor untuk Penguatan Hak Sipil di Amerika Serikat
Hak Sipil: Pilar Demokrasi yang Selalu Diuji
Hak sipil mencakup kebebasan dasar yang dijamin oleh Konstitusi dan undang-undang federal, termasuk hak untuk bebas dari diskriminasi, hak atas proses hukum yang adil, kebebasan berbicara, beragama, dan berkumpul. Namun, dalam praktiknya, hak-hak ini sering kali menghadapi tantangan berupa:- Profil rasial oleh aparat penegak hukum
- Praktik diskriminatif dalam pemilihan umum
- Hambatan akses ke layanan publik bagi kelompok rentan
- Ketimpangan perlindungan hukum
Kolaborasi Pemerintah dan Komunitas: Contoh Nyata
Kolaborasi lintas sektor telah menghasilkan banyak inisiatif yang sukses dalam perlindungan hak sipil. Misalnya, dalam upaya mengatasi praktik diskriminatif dalam pemilu, kerja sama antara Civil Rights Division dan organisasi pemantau pemilu independen telah memastikan bahwa hak pilih kelompok minoritas tetap terjaga di berbagai wilayah yang rawan manipulasi. Contoh lain adalah program community policing yang mempertemukan kepolisian lokal, organisasi hak sipil, dan pemimpin komunitas untuk membangun kembali kepercayaan antara aparat dan masyarakat. Pendekatan ini terbukti mampu mengurangi konflik, mengedepankan dialog, dan menciptakan pendekatan keamanan yang berbasis hak asasi.Peran Penting Sektor Swasta dan Teknologi
Di era digital, sektor swasta—terutama perusahaan teknologi—memiliki pengaruh besar terhadap hak sipil. Isu seperti kebebasan berekspresi di media sosial, perlindungan data pribadi, dan transparansi algoritma kini menjadi bagian dari diskursus hak asasi modern. Banyak perusahaan mulai menjalin kemitraan dengan lembaga HAM dan organisasi advokasi untuk menyusun kebijakan internal yang lebih inklusif dan bertanggung jawab. Contohnya, sejumlah platform teknologi kini memiliki dewan penasehat eksternal yang terdiri dari pakar HAM dan hukum untuk meninjau kebijakan moderasi konten mereka. Namun demikian, tantangan tetap ada. Pengawasan dan akuntabilitas tetap dibutuhkan agar kolaborasi ini tidak menjadi simbolis semata, tetapi benar-benar berdampak dalam memastikan tidak ada pelanggaran hak yang terjadi dalam sistem yang mereka bangun.Pendidikan dan Advokasi sebagai Penggerak Perubahan
Elemen kunci lain dari kolaborasi lintas sektor adalah pendidikan publik dan advokasi. Banyak lembaga HAM nasional bekerja sama dengan LSM dan institusi akademik untuk mengembangkan kurikulum, pelatihan, dan kampanye yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap hak-hak sipil mereka. Kampanye ini tidak hanya fokus pada pelaporan pelanggaran, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat agar mampu mengenali dan menanggapi isu diskriminasi, intoleransi, dan pelanggaran hukum secara proaktif.Membangun Sistem yang Inklusif dan Responsif
Tujuan akhir dari kolaborasi lintas sektor adalah membentuk sistem yang lebih inklusif, responsif, dan akuntabel terhadap kebutuhan seluruh warga negara. Dengan memperkuat jaringan kerja antar lembaga pemerintah, masyarakat sipil, akademisi, dan sektor bisnis, AS dapat memperluas cakupan perlindungan HAM secara menyeluruh. Namun keberhasilan ini hanya bisa dicapai jika semua pihak benar-benar berkomitmen pada prinsip kesetaraan, transparansi, dan keadilan. Dibutuhkan upaya berkelanjutan, evaluasi berkala, dan keterbukaan terhadap kritik serta inovasi agar kolaborasi ini tidak stagnan, tetapi terus berkembang sesuai dengan tantangan zaman. Melindungi dan memajukan hak sipil di Amerika Serikat bukan tugas satu institusi, melainkan hasil kerja kolektif lintas sektor. Di tengah realitas sosial dan politik yang terus berubah, membangun ekosistem kolaboratif menjadi satu-satunya jalan untuk memastikan bahwa nilai-nilai demokrasi dan hak asasi manusia tetap menjadi fondasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.Mendorong Akses Setara melalui Kebijakan Pendidikan di USA
Pendidikan merupakan hak dasar yang menjadi fondasi penting dalam pembangunan individu dan masyarakat. Dalam konteks Amerika Serikat, memastikan akses pendidikan yang setara dan bebas diskriminasi menjadi bagian dari mandat institusi-institusi nasional yang bekerja untuk melindungi hak asasi manusia. Salah satu sektor yang terus mendapat perhatian serius adalah kesetaraan dalam sistem pendidikan publik, terutama dalam mengatasi ketimpangan historis dan struktural yang masih terjadi hingga kini.
Isu Ketimpangan dalam Sistem Pendidikan
Meski Amerika Serikat memiliki sistem pendidikan publik yang tersebar luas dan dibiayai negara, tidak semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan berkualitas. Ketimpangan ini muncul karena berbagai faktor, mulai dari perbedaan sumber daya antar distrik sekolah, diskriminasi berbasis ras atau etnis, status sosial ekonomi, hingga hambatan bagi siswa penyandang disabilitas.
Masalah ini menjadi perhatian lembaga nasional seperti Office for Civil Rights (OCR) di bawah U.S. Department of Education. OCR secara aktif mengawasi pelanggaran terhadap hak-hak siswa, termasuk diskriminasi dalam penerimaan siswa, perlakuan di sekolah, hingga akses terhadap program pendidikan khusus.
Peran Institusi HAM dalam Advokasi Pendidikan
Institusi seperti OCR memiliki mandat untuk menegakkan hak-hak pendidikan yang adil, serta menyelidiki laporan diskriminasi berdasarkan ras, jenis kelamin, asal negara, disabilitas, dan usia. Melalui pengawasan ini, lembaga dapat mengintervensi dalam kasus-kasus seperti:
- Pengeluaran siswa secara tidak proporsional dari kelompok minoritas
- Penolakan terhadap siswa dengan kebutuhan khusus
- Kurangnya akses terhadap program pendidikan tinggi bagi siswa dari komunitas marginal
Selain OCR, U.S. Commission on Civil Rights juga turut mendorong kebijakan yang lebih adil melalui laporan dan rekomendasi kebijakan berbasis riset. Salah satu fokus utama mereka adalah kesenjangan dalam pendanaan pendidikan di distrik yang dihuni mayoritas kelompok minoritas atau berpenghasilan rendah.
Contoh Intervensi dan Perubahan Nyata
Beberapa intervensi lembaga nasional telah menghasilkan perubahan kebijakan yang signifikan. Misalnya, investigasi OCR terhadap praktik diskriminatif dalam penempatan siswa ke dalam program pendidikan khusus telah menyebabkan revisi kebijakan oleh sejumlah distrik sekolah besar. Perubahan ini berdampak langsung pada ribuan siswa yang sebelumnya mendapatkan perlakuan tidak adil.
Di sisi lain, pengawasan terhadap perlakuan disipliner yang tidak proporsional—di mana siswa kulit hitam dan Latin lebih sering mendapat hukuman berat dibandingkan siswa kulit putih untuk pelanggaran yang sama—menjadi isu utama dalam upaya reformasi sistem pendidikan.
Tantangan dan Agenda ke Depan
Meskipun sudah banyak kemajuan, tantangan tetap ada. Salah satu yang paling signifikan adalah kurangnya keseragaman kebijakan antar negara bagian dan distrik, serta resistensi terhadap upaya federalisasi pendidikan. Beberapa daerah masih menolak kebijakan inklusif yang berbasis pada prinsip kesetaraan, terutama di wilayah yang secara historis memiliki dinamika rasial yang kompleks.
Selain itu, kebijakan pendidikan juga semakin dipengaruhi oleh dinamika politik, yang bisa berdampak pada pelaksanaan program-program berbasis HAM di sekolah. Dalam konteks ini, advokasi berbasis data dan pendekatan kolaboratif menjadi strategi penting untuk mendorong perubahan yang tahan lama.
Membangun Pendidikan yang Inklusif dan Berkeadilan
Akses pendidikan yang adil dan setara adalah fondasi bagi terciptanya masyarakat yang inklusif dan demokratis. Oleh karena itu, peran institusi HAM nasional dalam sektor ini tidak hanya terbatas pada pengawasan, tetapi juga dalam pemberdayaan masyarakat, pelatihan tenaga pendidik, dan pembuatan kebijakan publik yang berpihak pada kelompok rentan.
Kemitraan antara lembaga HAM, komunitas lokal, dan institusi pendidikan perlu terus diperkuat untuk memastikan bahwa setiap anak—terlepas dari ras, latar belakang ekonomi, atau kemampuan fisik—mendapatkan hak mereka untuk belajar dan berkembang dalam lingkungan yang aman dan mendukung.
Dalam menghadapi tantangan ketimpangan pendidikan di AS, kolaborasi lintas sektor dan komitmen terhadap prinsip hak asasi manusia menjadi sangat krusial. Melalui pendekatan yang sistematis dan berbasis bukti, institusi nasional dapat memainkan peran penting dalam menciptakan sistem pendidikan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga adil dan berperikemanusiaan.
Tantangan Legal NHRI di USA dalam Sistem Federal
Sebagai negara dengan sistem federal, Amerika Serikat menghadirkan dinamika tersendiri dalam pengembangan dan pelaksanaan perlindungan hak asasi manusia melalui institusi nasionalnya. Berbeda dengan banyak negara lain yang memiliki National Human Rights Institution (NHRI) dengan status tunggal yang diakui secara internasional, AS justru memiliki pendekatan yang lebih tersebar dan kompleks. Hal ini menimbulkan sejumlah tantangan, khususnya dari aspek legal dan struktural.
NHRI dan Sistem Federal: Ketidaksesuaian yang Kompleks
Dalam konteks global, NHRI umumnya adalah lembaga tunggal yang dibentuk oleh negara untuk mempromosikan dan melindungi hak asasi manusia secara menyeluruh. Lembaga ini biasanya mengikuti Prinsip Paris yang ditetapkan oleh PBB, mencakup independensi, mandat luas, dan kemampuan menyelidiki pelanggaran HAM.
Namun di Amerika Serikat, tidak ada satu institusi nasional yang diakui secara resmi sebagai NHRI menurut standar internasional. Sebaliknya, fungsi tersebut tersebar di sejumlah lembaga federal seperti:
- U.S. Commission on Civil Rights
- Equal Employment Opportunity Commission
- Department of Justice Civil Rights Division
- Office for Civil Rights (OCR) di bawah Department of Education
Masing-masing memiliki mandat yang spesifik dan terbatas. Akibatnya, tidak ada otoritas tunggal yang dapat mengkoordinasikan atau mengonsolidasikan upaya perlindungan HAM secara nasional. Dalam sistem federal seperti AS, hal ini menciptakan fragmentasi kelembagaan yang memperumit penanganan isu HAM lintas sektor dan wilayah.
Kendala Yurisdiksi dan Tumpang Tindih Kewenangan
Salah satu tantangan utama dari struktur ini adalah jurisdiksi yang terbatas dan sering kali tumpang tindih antar lembaga. Misalnya, kasus diskriminasi rasial di sekolah bisa saja berada di bawah kewenangan OCR, namun juga bersinggungan dengan yurisdiksi pemerintah negara bagian atau bahkan lembaga lokal.
Selain itu, negara bagian di AS memiliki kebebasan legislatif yang besar. Artinya, banyak kebijakan yang menyangkut hak asasi manusia—seperti akses terhadap layanan kesehatan, pemilihan umum, atau hak reproduksi—ditentukan secara berbeda di tiap negara bagian. Hal ini membuat standar HAM nasional menjadi tidak konsisten dan terkadang bertentangan dengan prinsip-prinsip universal.
Absennya Akreditasi Internasional
Hingga saat ini, Amerika Serikat belum memiliki NHRI yang terakreditasi oleh Global Alliance of National Human Rights Institutions (GANHRI). Hal ini membuat AS tidak memiliki suara resmi dalam forum NHRI internasional, dan juga memengaruhi persepsi global terhadap komitmen negara ini dalam menjalankan prinsip-prinsip HAM secara terpadu.
Ketiadaan akreditasi ini juga membatasi akses terhadap jaringan kerjasama internasional dan praktik terbaik dari negara lain, yang seharusnya dapat memperkuat posisi Amerika dalam hal promosi HAM global.
Inisiatif Perbaikan dan Peran Masyarakat Sipil
Meski tidak memiliki NHRI tunggal, berbagai upaya perbaikan terus diupayakan. Banyak organisasi masyarakat sipil, akademisi, dan lembaga HAM mendorong pembentukan NHRI yang memenuhi standar internasional. Salah satu wacana yang menguat adalah membentuk komisi HAM nasional independen yang memiliki mandat lintas sektoral dan dilindungi secara konstitusional.
Di sisi lain, penguatan kerjasama antar lembaga yang ada saat ini juga menjadi strategi jangka pendek yang rasional. Melalui koordinasi dan integrasi data, pelaporan terpadu, serta forum lintas lembaga, sebagian tantangan struktural dapat diminimalkan.
Dalam lanskap HAM global, Amerika Serikat tetap menjadi negara dengan pengaruh besar. Namun, ketiadaan NHRI terakreditasi secara internasional menjadi celah serius dalam sistemnya. Sistem federal yang kompleks dan tersebar menghadirkan tantangan legal yang unik, namun juga membuka ruang inovasi dalam penguatan kelembagaan berbasis konteks lokal.
Mendorong pembentukan NHRI yang kuat, independen, dan akuntabel tidak hanya akan memperkuat posisi AS secara global, tetapi juga mempertegas komitmennya dalam memastikan bahwa hak-hak setiap individu, tanpa kecuali, dihormati dan dilindungi dalam setiap lapisan sistem pemerintahannya.
Bagaimana EEOC Menangani Diskriminasi di Dunia Kerja
Di Amerika Serikat, perlindungan terhadap hak individu di tempat kerja merupakan aspek penting dari sistem hak asasi manusia. Salah satu lembaga yang memiliki mandat utama dalam isu ini adalah Equal Employment Opportunity Commission (EEOC). Lembaga ini berperan sentral dalam menegakkan keadilan, menghilangkan diskriminasi, dan menciptakan lingkungan kerja yang inklusif di seluruh sektor—baik publik maupun swasta.
Fungsi Utama dan Landasan Hukum EEOC
EEOC dibentuk berdasarkan Title VII dari Civil Rights Act tahun 1964, sebuah undang-undang bersejarah yang melarang diskriminasi di tempat kerja berdasarkan ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, atau asal negara. Seiring waktu, kewenangannya diperluas untuk mencakup diskriminasi berdasarkan usia (Age Discrimination in Employment Act), disabilitas (Americans with Disabilities Act), dan informasi genetik (Genetic Information Nondiscrimination Act).
Tugas utama EEOC meliputi:
- Menerima dan memproses laporan diskriminasi kerja
- Melakukan investigasi atas dugaan pelanggaran
- Mendorong penyelesaian melalui mediasi
- Mengajukan tuntutan hukum atas nama korban diskriminasi
- Memberikan edukasi dan pelatihan kepada perusahaan dan publik
Dengan kewenangan ini, EEOC menjadi lembaga yang tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga preventif dalam menciptakan kesetaraan di dunia kerja.
Proses Penanganan Kasus Diskriminasi
Setiap individu yang merasa mengalami perlakuan tidak adil di tempat kerja dapat mengajukan pengaduan ke EEOC. Prosesnya cukup sistematis dan dibagi ke dalam beberapa tahap:
- Pengajuan Aduan
Korban mengajukan laporan resmi ke EEOC dalam batas waktu tertentu (biasanya 180 hingga 300 hari sejak kejadian). - Evaluasi Awal dan Mediasi
Jika laporan memenuhi kriteria, EEOC akan menawarkan proses mediasi sukarela antara pelapor dan perusahaan yang dilaporkan. - Investigasi Formal
Jika mediasi gagal atau tidak dilakukan, EEOC akan menyelidiki kasus lebih dalam, termasuk meminta dokumen internal perusahaan, wawancara saksi, dan lainnya. - Tindakan Lanjutan
Jika ditemukan bukti pelanggaran, EEOC dapat mengupayakan penyelesaian atau membawa kasus ke pengadilan federal. - Surat Hak untuk Menuntut
Jika EEOC tidak menemukan cukup bukti, korban tetap dapat melanjutkan gugatan secara pribadi dengan surat ini.
Yang membedakan EEOC dari lembaga lain adalah kemampuannya untuk menyeimbangkan pendekatan hukum dengan penyelesaian damai, sekaligus tetap berpihak pada perlindungan korban.
Tantangan dan Perkembangan Terkini
Meskipun EEOC telah memberikan dampak signifikan dalam menekan diskriminasi, tantangan baru terus bermunculan. Salah satunya adalah bentuk diskriminasi yang semakin kompleks dan tersamar—seperti bias dalam algoritma rekrutmen digital, atau microaggressions yang sulit dibuktikan secara hukum.
Selain itu, pandemi COVID-19 juga membawa tantangan baru terkait hak-hak pekerja, seperti kebijakan vaksinasi, akses terhadap akomodasi bagi pekerja penyandang disabilitas, dan isu keselamatan kerja yang tidak merata.
Menjawab tantangan ini, EEOC mulai beradaptasi dengan memperkuat divisi riset dan data, melibatkan teknologi canggih dalam investigasi, serta melakukan kampanye edukasi untuk meningkatkan literasi publik mengenai hak ketenagakerjaan.
Peran Edukasi dan Pencegahan
EEOC menyadari bahwa pencegahan adalah strategi jangka panjang paling efektif. Karena itu, lembaga ini secara aktif menyelenggarakan pelatihan, webinar, dan penyuluhan bagi HRD perusahaan, serikat buruh, hingga lembaga pemerintah daerah. Tujuannya adalah menciptakan lingkungan kerja yang sadar hak, adil, dan menghargai keberagaman.
Dengan mendekatkan diri kepada komunitas pekerja dan pemberi kerja, EEOC memperkuat perannya sebagai mitra strategis dalam menciptakan iklim kerja yang bebas diskriminasi.
Keberadaan Equal Employment Opportunity Commission merupakan bukti nyata komitmen Amerika Serikat terhadap hak asasi manusia di dunia kerja. Melalui mekanisme hukum yang kuat, pendekatan edukatif, serta adaptasi terhadap tantangan baru, EEOC menjadi garda terdepan dalam melindungi setiap individu dari perlakuan diskriminatif di tempat kerja. Di era yang semakin kompleks ini, keberlanjutan peran EEOC akan sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat, dunia usaha, dan kolaborasi lintas sektor.
Peran Komisi Hak Sipil AS dalam Perlindungan Warga Negara
Dalam konteks perlindungan hak asasi manusia di Amerika Serikat, keberadaan lembaga independen yang fokus pada pengawasan dan penegakan keadilan sipil sangatlah vital. Salah satu institusi yang menempati posisi strategis dalam sistem tersebut adalah U.S. Commission on Civil Rights atau Komisi Hak Sipil Amerika Serikat. Lembaga ini menjadi pilar utama dalam meninjau, mengawasi, dan memberikan rekomendasi terhadap pelanggaran hak-hak sipil, khususnya yang terjadi dalam sektor pemerintahan dan kebijakan publik.
Sejarah Singkat dan Mandat Utama
Didirikan pada tahun 1957 melalui Civil Rights Act, Komisi Hak Sipil merupakan badan independen federal yang bertugas untuk menyelidiki tuduhan diskriminasi berdasarkan ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, asal negara, dan disabilitas. Fokus awal pendiriannya adalah untuk menangani ketidaksetaraan sistemik terhadap warga kulit hitam di masa segregasi, namun dalam perkembangannya, mandatnya diperluas untuk meliputi berbagai isu diskriminasi lainnya.
Mandat utama lembaga ini adalah:
-
Mengumpulkan dan menganalisis data terkait pelanggaran hak sipil
-
Mengadakan dengar pendapat publik tentang isu-isu krusial HAM
-
Menerbitkan laporan dan rekomendasi kepada Presiden dan Kongres
-
Mengedukasi masyarakat mengenai hak-hak sipil dan kebijakan yang relevan
Peran Strategis dalam Kebijakan Publik
Salah satu kekuatan terbesar dari Komisi ini adalah kapasitasnya untuk melakukan penelitian mendalam dan investigasi non-partisan terhadap kebijakan publik yang berpotensi melanggar prinsip kesetaraan. Misalnya, dalam isu sistem peradilan pidana, pendidikan, perumahan, dan akses terhadap layanan kesehatan, Komisi sering kali mengeluarkan laporan-laporan komprehensif yang berfungsi sebagai referensi utama dalam penyusunan kebijakan di tingkat federal maupun negara bagian.
Salah satu contoh yang menonjol adalah laporan mereka tentang voter suppression atau penindasan hak pilih di negara-negara bagian tertentu, yang menjadi rujukan penting dalam perdebatan tentang reformasi pemilu.
Mekanisme Pengawasan dan Pelibatan Publik
Komisi Hak Sipil tidak memiliki wewenang langsung untuk menuntut atau menjatuhkan sanksi, tetapi melalui pendekatan moral authority dan advokasi berbasis data, mereka memiliki pengaruh signifikan terhadap arah kebijakan publik.
Yang menarik, lembaga ini juga memberdayakan komisi-komisi negara bagian dan lokal untuk melakukan pemantauan isu HAM di wilayah masing-masing. Dengan lebih dari 50 cabang lokal yang tersebar di seluruh negara bagian, pengawasan menjadi lebih kontekstual dan dekat dengan realita warga.
Selain itu, lembaga ini aktif menyelenggarakan hearing terbuka dan pengumpulan testimoni publik, di mana warga negara, aktivis, dan ahli diberi ruang untuk menyampaikan pandangan dan pengalaman mereka. Langkah ini memperkuat legitimasi temuan Komisi sekaligus memperluas cakupan perspektif dalam setiap laporan.
Tantangan dan Peluang
Meski memiliki peran penting, Komisi Hak Sipil menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan anggaran, tekanan politik, serta kesulitan dalam menjangkau isu-isu baru yang berkembang cepat, seperti diskriminasi berbasis algoritma dalam teknologi. Namun, di tengah tantangan tersebut, peluang tetap terbuka.
Kolaborasi dengan organisasi masyarakat sipil, lembaga akademik, serta platform digital memberi harapan baru dalam menjangkau audiens yang lebih luas dan memperkuat dampak advokasi mereka. Dengan terus memperkuat basis data dan membangun kemitraan lintas sektor, Komisi ini memiliki potensi untuk tetap relevan dalam menghadapi isu-isu HAM kontemporer.
Peran U.S. Commission on Civil Rights tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebagai institusi nasional yang berakar pada prinsip-prinsip konstitusional, komisi ini menjadi jangkar penting dalam menjamin bahwa hak setiap warga negara—apa pun latar belakangnya—dilindungi, dihormati, dan dipromosikan secara berkelanjutan. Ke depan, penguatan kelembagaan dan perluasan partisipasi publik akan menjadi kunci dalam menjawab tantangan HAM yang terus berkembang di era modern.
Hubungan antara Institusi HAM di AS dan PBB dalam Meningkatkan Standar Internasional
Hak asasi manusia (HAM) merupakan isu global yang terus menjadi perhatian berbagai negara dan organisasi internasional. Di Amerika Serikat, institusi hak asasi manusia memainkan peran penting dalam memastikan perlindungan hak-hak warganya, sekaligus berkontribusi pada standar internasional melalui hubungan erat dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Hubungan antara institusi HAM di AS dan PBB mencerminkan upaya bersama untuk meningkatkan standar internasional dan menjamin pelaksanaan hak asasi manusia di seluruh dunia.
Peran Institusi HAM di Amerika Serikat
Di Amerika Serikat, beberapa institusi dan lembaga memiliki mandat untuk melindungi hak asasi manusia. Di tingkat federal, Komisi Hak Sipil AS (U.S. Commission on Civil Rights) dan Departemen Luar Negeri AS melalui Biro Demokrasi, Hak Asasi Manusia, dan Buruh (Bureau of Democracy, Human Rights, and Labor) adalah dua entitas utama yang terlibat dalam isu HAM. Selain itu, berbagai organisasi non-pemerintah (NGO) seperti American Civil Liberties Union (ACLU) dan Human Rights Watch (HRW) juga memainkan peran penting dalam advokasi dan pengawasan.
Institusi ini bekerja untuk menegakkan hak-hak sipil, memerangi diskriminasi, dan memastikan perlindungan terhadap kelompok-kelompok rentan seperti minoritas rasial, etnis, agama, dan gender. Mereka juga sering berkolaborasi dengan organisasi internasional, termasuk PBB, dalam memperjuangkan nilai-nilai universal hak asasi manusia.
PBB sebagai Penggerak Standar Internasional
PBB, sebagai organisasi internasional terbesar, memiliki peran utama dalam menetapkan standar HAM di tingkat global. Melalui berbagai instrumen seperti Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM), Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial (ICERD), dan Konvensi Hak Anak (CRC), PBB menyediakan kerangka kerja universal yang menjadi acuan bagi negara-negara anggota, termasuk Amerika Serikat.
PBB juga memiliki mekanisme pemantauan HAM, seperti Dewan Hak Asasi Manusia (UNHRC), Komite HAM, dan pelapor khusus (special rapporteurs). Mekanisme ini dirancang untuk memastikan implementasi dan kepatuhan terhadap standar internasional.
Kerja Sama antara AS dan PBB
Amerika Serikat, meskipun memiliki pendekatan yang unik terhadap isu HAM, berperan aktif dalam mendukung inisiatif PBB. Hubungan antara institusi HAM di AS dan PBB terlihat dalam beberapa aspek berikut:
1. Pelaporan dan Kepatuhan
Sebagai anggota PBB, Amerika Serikat diwajibkan untuk melaporkan kemajuan implementasi berbagai konvensi internasional kepada badan-badan terkait. Misalnya, laporan berkala ke Komite Penghapusan Diskriminasi Rasial (CERD) memberikan gambaran tentang langkah-langkah yang diambil AS untuk memerangi diskriminasi rasial. Institusi HAM di AS berkontribusi dalam proses penyusunan laporan ini dengan menyediakan data dan analisis yang relevan.
2. Advokasi dan Diplomasi
Amerika Serikat sering menggunakan platform PBB untuk mengadvokasi hak asasi manusia di negara-negara lain. Melalui perwakilan diplomatiknya, AS mendukung resolusi Dewan HAM yang berfokus pada pelanggaran HAM di berbagai belahan dunia. Sebaliknya, institusi HAM di AS memanfaatkan laporan PBB untuk mendorong reformasi kebijakan domestik.
3. Kolaborasi Teknis dan Program
PBB dan institusi HAM di AS sering bekerja sama dalam program teknis, seperti pelatihan hak asasi manusia, penguatan kapasitas kelembagaan, dan penelitian. Misalnya, Biro Demokrasi, Hak Asasi Manusia, dan Buruh bekerja dengan Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) dalam inisiatif global yang bertujuan memperkuat supremasi hukum dan keadilan sosial.
4. Partisipasi dalam Mekanisme Universal Periodic Review (UPR)
AS secara rutin mengikuti mekanisme Universal Periodic Review (UPR) yang dikelola oleh Dewan HAM PBB. Dalam proses ini, institusi HAM di AS memberikan kontribusi berupa laporan alternatif atau bayangan (shadow report) untuk melengkapi evaluasi yang dilakukan oleh pemerintah. Partisipasi ini memastikan adanya perspektif independen tentang situasi HAM di AS.
Tantangan dalam Hubungan AS dan PBB
Meskipun hubungan antara institusi HAM di AS dan PBB umumnya konstruktif, beberapa tantangan tetap ada. Beberapa di antaranya meliputi:
- Ketidaksesuaian Standar: AS sering kali mengadopsi pendekatan yang berbeda terhadap beberapa isu HAM, seperti hukuman mati dan hak ekonomi. Ini menyebabkan ketegangan dengan standar PBB yang lebih universal.
- Kritik terhadap Kebijakan Luar Negeri: AS sering dikritik atas kebijakan luar negeri yang dianggap tidak sesuai dengan prinsip-prinsip HAM. Ini dapat memengaruhi kredibilitasnya di forum PBB.
- Perbedaan Prioritas: Fokus AS terhadap kebebasan sipil dan politik kadang bertolak belakang dengan prioritas PBB terhadap hak-hak sosial, ekonomi, dan budaya.
Upaya Meningkatkan Sinergi
Untuk meningkatkan hubungan antara institusi HAM di AS dan PBB, beberapa langkah dapat diambil:
- Harmonisasi Kebijakan: Meningkatkan keselarasan kebijakan domestik AS dengan standar internasional, khususnya dalam isu-isu kontroversial seperti hukuman mati.
- Penguatan Partisipasi Masyarakat Sipil: Mendorong keterlibatan lebih besar dari NGO dalam proses pelaporan dan advokasi di PBB.
- Dialog yang Konstruktif: Mengadakan dialog rutin antara institusi HAM di AS dan badan-badan PBB untuk membahas tantangan dan peluang kerja sama.
- Peningkatan Transparansi: Meningkatkan transparansi dalam pelaporan dan implementasi rekomendasi PBB di tingkat domestik.
Hubungan antara institusi HAM di Amerika Serikat dan PBB merupakan contoh nyata dari kerja sama internasional dalam memperjuangkan hak asasi manusia. Meskipun terdapat perbedaan pendekatan dan tantangan, kedua pihak memiliki tujuan yang sama, yaitu menjamin perlindungan dan penghormatan hak asasi manusia. Dengan memperkuat kolaborasi, keduanya dapat terus meningkatkan standar internasional dan menciptakan dunia yang lebih adil dan setara.
Cara Bermain Game Slot Gacor Online
Game slot gacor adalah judi online terpopuler yang menggunakan cara kerja mudah dan cepat. Tidak ada aturan rumit untuk menjalankan mesin slot serta proses bertaruh selesai lebih cepat. Kemenangan diberikan di setiap putaran maka anda tidak harus menunggu lama untuk mengetahui kalah atau menang. Bagian reel berisi beraneka simbol relevan dengan tema. Mulai bet online dengan memasukkan koin anda lalu gerakkan tuas putar. Seluruh simbol segera berputar sesuai ketentuan permainan slot. Kemenangan ditentukan oleh hasil spin yang dilakukan computer dalam slot online tanpa pengaruh bandar memastikan menang atau kalah selalu adil. Khusus slot video 3D yang membangun cerita serta memakai animasi menakjubkan, harus menyelesaikan misi supaya bisa naik level. Jenis slot gacor beragam dari slot 3D, multi-payline, progresif hingga slot klasik.

Daftar Di Situs Slot Gacor Resmi
Berjudi slot gacor bisa dilakukan di segala lokasi yang terhubung pada jaringan internet. Pilih situs slot terpercaya dengan ciri mempunyai layanan 24 jam setiap hari dan akses website cocok untuk perangkat computer dan ponsel pintar. Harus memilih bandar terbaik agar bisa melakukan bet online di waktu-waktu hoki sebab beberapa game slot hanya memberikan peluang menang optimal ketika dimainkan pada waktu tertentu. Situs slot terpercaya memastikan rahasia membernya tidak bocor ke orang lain. Tahap registrasi harus membuka website, kemudian klik fitur daftar untuk melengkapi formulir pakai informasi berikut ini:
1. Nama Akun/Username
2. Kata Sandi/Password
3. Nomor Rekening Bank
4. Nama Rekening Bank
5. Akun Email Aktif
6. Nomor Hp
7. Kode Captcha
Lakukan proses mendaftar tanpa kesalahan maka wajib cek berulang kali formulir registrasi. Setelah memegang ID, login ke bandar slot gacor online terpercaya. Lanjutkan dengan deposit sesuai jumlah dana bertaruh yang diinginkan serta tidak kurang dari minimal deposit.
Pilih Permainan Slot Online Dengan Peluang Menang Terbaik
Id dan dana akun telah disiapkan, berikutnya memilih game slot gacor dari daftar koleksi provider mitra situs judi resmi. Ciri permainan slot dengan peluang menang optimal adalah mempunyai volatilitas rendah, RTP slot minimal 91% atau slot online jarang dimainkan. Referensi slot gacor potensi menang terbaik adalah:
Game Golden Ox merupakan slot gacor bertema budaya Tiongkok yaitu Shio Kerbau dalam kalender China. Golden Ox tergolong game cukup jarang dilirik pemain tetapi merupakan permainan apik yang menawarkan banyak bonus putaran melalui 1 sampai 3 simbol scatter.
Game Eye of the Storm adalah game slot online yang memakai tema Mesir Kuno. Reruntuhan Piramida, harta karun terkutuk dan padang pasir muncul selama mesin slot berjalan. Peluang menang slot gacor ini tinggi karena berbagi persentase RTP 97,71%.
Game Joker King pilihan ideal karena penggunaan grafis solid dan audio keren khas tema retro selalu memikat. Resiko bet online slot gacor Joker King sangat kecil karena adanya tingkat volatilitas rendah. Dibuat dengan format 6 reel dan 4 baris, permainan slot ini lebih mudah dimengerti.
Pilihan slot gacor harus mempertimbangkan pengalaman dan kemampuan Menyusun pola taruhan online. Jangan ikut pemain lain sebab kondisi dan situasi anda dengan player tersebut bisa saja berbeda artinya peluang meraih kemenang tidak pasti sama walau menjalankan judul game sama. Klik fitur slot, pilih provider. Bila memutuskan bet online Golden Ox, harus memilih Pragmatic Play. Tekan ikon info supaya berpindah ke halaman paytable. Cek semua fitur, bonus, RTP, hadiah dan range taruhan slot gacor online. Mulai dari minimal betting dulu agar aman lalu gerakkan tuas putar. Selama mesin slot dijalankan, anda bisa memperoleh simbol wild atau simbol scatter secara acak.
Trik Bermain Judi Slot Online
Menyusun pola bermain slot gacor menggunakan history permainan dan data slot online wajib didukung trik terbaik untuk meraih kemenangan maksimal. Terdapat banyak sekali trik bertaruh slot gacor seperti berikut:
1. Menentukan lama dan modal taruhan. Pola bet online sangat mempermudah menetapkan lama waktu berjudi dan modal ideal yang bisa memunculkan peluang menang optimal. Perlu dicatat, anda dapat menjalankan mesin slot sesuai batas waktu dan dana yang sudah dibuat.
2. Jangan pakai seluruh uang pada sekali putaran. Anda harus memahami bahwa kemenangan slot online berlaku untuk sekali spin. Memasang range tinggi dengan seluruh dana yang dimiliki di tahap awal taruhan beresiko kalah besar. Bijaknya dari nominal rendah lalu menaikkan 2x lipat bertahap pada setiap putaran baru.
3. Hindari hanya bermain satu game terus-menerus. Potensi menang terbatas saat terpaku memainkan satu judul slot online saja. Kondisi tersebut memicu rasa bosan yang berpotensi menurunkan fokus dan minat pemain artinya taruhan menjadi tidak maksimal.
4. Pilih RTP slot tinggi jika bermain dengan modal besar. Persentase return to player tinggi artinya lebih banyak dana yang dikumpulkan player menjadikan mesin slot menawarkan kemenangan terbesar. Hal tersebut jauh lebih menguntungkan saat anda bet online menggunakan moda banyak.
Sudah praktis dan aman bergabung pada sistem bet slot gacor online. Penggunaan sistem keamanan canggih serta kemitraan dengan provider berlisensi MGA menjamin privasi pemain tidak dapat diretas pihak tidak bertanggung jawab. Tahapan berjudi slot gacor perlu ID dan transaksi deposit di situs taruhan resmi. Melalui Id, anda bisa menjalankan slot dimanapun selama terhubung koneksi internet. Persiapkan pola bermain dan trik untuk memicu kemenangan.
Pemerintah Macron Dikecam Karena Mengkritik Salah Satu LSM Hak Asasi Manusia Tertua di Prancis
Pemerintah Macron Dikecam Karena Mengkritik Salah Satu LSM Hak Asasi Manusia Tertua di Prancis – Di tengah suasana politik tegang yang mencengkeram Prancis ketika krisis reformasi pensiun berlanjut, Perdana Menteri Élisabeth Borne pada hari Rabu menjadi anggota terbaru pemerintah Macron yang mengkritik Liga Hak Asasi Manusia, salah satu LSM tertua Prancis, bahkan menuduhnya mengambil sikap “ambigu”. sikap terhadap Islamisme dalam beberapa tahun terakhir. Komentarnya mengikuti komentar menteri dalam negeri, yang menyarankan subsidi negara kelompok itu harus ditinjau mengingat kritiknya baru-baru ini terhadap pemerintah.
Pemerintah Macron Dikecam Karena Mengkritik Salah Satu LSM Hak Asasi Manusia Tertua di Prancis

nhri – Perdana Menteri Élisabeth Borne mengatakan selama sesi tanya jawab Senat pada hari Rabu bahwa pendapatnya tentang Liga Hak Asasi Manusia ( Ligue des droits de l’Homme, atau LDH) telah berubah. “Saya sangat menghormati apa yang diwujudkan LDH di masa lalu,” katanya, tetapi “Saya tidak lagi memahami beberapa posisinya.”
Ditanggung melanjutkan dengan mengatakan bahwa beberapa ketidakpahamannya berasal dari “ambiguitas liga dalam menghadapi Islamisme radikal dan itu telah diperkuat selama beberapa bulan terakhir”.
Baca Juga : Komisi Hak Asasi Manusia Pakistan Menyatakan Kekhawatiran yang Cukup Besar
Ditanggung tampaknya mengacu pada tindakan seperti dukungan liga untuk “pawai melawan Islamofobia” pada akhir 2019. Beberapa orang di Prancis baik kiri maupun kanan memandang nama protes tersebut sebagai kontradiksi implisit dari keyakinan Prancis akan hak untuk mengkritik semua agama, bagian dari nilai sekularisme ( laïcité ) yang dijunjung tinggi Prancis. Namun, yang lain bersikeras pawai itu menentang diskriminasi anti-Muslim , bukan kritik terhadap Islam.
Sangat tidak biasa bagi seorang pemimpin Prancis untuk mengkritik keras salah satu LSM hak asasi manusia tertua dan paling terkenal di negara itu. Liga didirikan pada tahun 1898, pada puncak 1894-1906 Dreyfus Affair skandal terbesar Republik Ketiga Prancis, mengenai seorang perwira tentara Yahudi yang dihukum karena pengkhianatan dan perjuangan panjang untuk membebaskannya. LDH telah memainkan peran kunci dalam masyarakat sipil Prancis sejak saat itu.
Liga Hak Asasi Manusia mendapat kecaman pada tahun 2020 karena menolak mengirim perwakilan ke persidangan para terdakwa dalam serangan jihadis Januari 2015 di majalah satir Charlie Hebdo dan supermarket halal Hypercasher, momen penting di Prancis yang akhirnya melihat para tersangka dihukum dan dihukum.
Dalam beberapa minggu terakhir, liga telah mengerahkan pengamat warga ke protes reformasi pensiun untuk mendokumentasikan bagaimana pasukan keamanan menjaga ketertiban. Borne memuji tindakan polisi yang tindakannya telah dikritik secara internasional karena berlebihan dan menyarankan mereka ada di sana untuk melindungi pengunjuk rasa. “Demonstrasi adalah hak fundamental. Bukan dengan memaafkan kekerasan yang kami pertahankan… Justru sebaliknya,” katanya.
Kontroversi atas protes
Dalam sambutannya pada hari Rabu, Borne juga mengutip “banyak LSM lain” yang juga “tidak mengerti” posisi LDH merujuk pada surat yang dikirim pada hari Selasa oleh ketua Liga Internasional Melawan Rasisme dan Anti-Semitisme ( Ligue internationale contre le racisme et l’antisémitisme, atau LICRA) kepada ketua Komisi Konsultatif Hak Asasi Manusia , LSM hak asasi Prancis lainnya yang telah lama berdiri.
Surat presiden LICRA mengkritik LDH karena memberi kesan bahwa “pihak berwenang adalah musuh publik No. 1” dan memperingatkan risiko kekerasan yang “dilegitimasi” ketika diarahkan terhadap perwakilan negara Prancis.
Kontroversi atas pernyataan Borne mengikuti kemarahan sebelumnya atas komentar dari sayap kanan Menteri Dalam Negeri Gérald Darmanin selama waktu pertanyaan Senat lainnya pada 5 April. Menanggapi seorang senator dari partai konservatif Les Républicains yang menyerukan “diakhiri pendanaan negara untuk asosiasi yang sangat merusak negara”, Darmanin menyatakan bahwa subsidi negara yang diberikan kepada LDH “harus dilihat dari tindakan mereka”.
Berbagai politisi sayap kiri bergabung dengan presiden LDH Patrick Baudouin mengkritik keras pernyataan Darmanin.
Deklarasi menteri dalam negeri juga memicu petisi di surat kabar komunis L’Humanité yang ditandatangani oleh 1.000 tokoh masyarakat termasuk sejumlah politisi sayap kiri, pemimpin serikat buruh dan nama-nama terkemuka di bidang seni mengatakan, “Jangan sentuh LDH!”
“Subsidi publik sangat penting untuk menjamin independensi asosiasi dan melindungi mereka dari keinginan mereka yang berkuasa,” bunyi petisi tersebut. “Mempertanyakan subsidi ini adalah cara untuk menghilangkan check and balances dan memadamkan debat publik.”
Borne mengadopsi pendekatan yang lebih lembut daripada Darmanin meredam kritiknya terhadap LDH dengan mengatakan bahwa “memotong subsidi untuk asosiasi tertentu” “tidak sesuai rencana” dan bahwa dia berharap LSM hak asasi manusia akan “melanjutkan kegiatan pemantauan mereka”.
Namun dia menambahkan bahwa pemerintah juga “memiliki tanggung jawab untuk berbicara dengan LSM tentang apa yang mereka lakukan ketika mereka mendapatkan dana dari pemerintah”.
Kepala LDH Baudouin menanggapi dengan marah ucapan Borne pada hari Rabu, mengatakan dia “terkejut” dan “terkejut” dengan apa yang dia lihat sebagai “penyimpangan” dari posisi kelompok tersebut. Baudouin meminta PM untuk “menenangkan perdebatan alih-alih memperburuk keadaan”.
Politisi sayap kiri bergabung dengan Baudouin dalam mengutuk ucapannya. Senator Partai Hijau David Salmon menuduh pemerintah “memeras” atas komentar tentang subsidi publik untuk LDH, dengan mengatakan bahwa sikap seperti itu dapat mengarah pada “waktu ketika orang tidak lagi memiliki hak untuk mempertanyakan kebijakan pemerintah”.
Perdana menteri ingin “menghindari penolakan” Darmanin, kata Eliane Assassi, pemimpin Partai Komunis di Senat, yang menanyakan Borne pertanyaan yang memicu komentarnya tentang LDH.
Tetapi beberapa politisi sayap kanan menyuarakan persetujuan dengan pendekatan Borne dan Darmanin –. Bruno Retailleau, pemimpin Les Républicains di Senat, secara khusus mendesak pemerintah untuk “memotong subsidi [LDH]” dengan mengatakan bahwa LSM tersebut “tidak diragukan lagi memiliki masa lalu yang mulia, masa lalu yang gemilang”, tetapi sekarang “kehilangan dirinya dalam pertengkaran sayap kiri ”.
Komisi Hak Asasi Manusia Pakistan Menyatakan Kekhawatiran yang Cukup Besar
Komisi Hak Asasi Manusia Pakistan Menyatakan Kekhawatiran yang Cukup Besar – Kelompok hak asasi utama Pakistan meningkatkan ‘alarm’ terhadap kebebasan beragama. Laporan HRCP berfokus pada konversi paksa, penodaan tempat ibadah dan marginalisasi komunitas Ahmadi.
Komisi Hak Asasi Manusia Pakistan Menyatakan Kekhawatiran yang Cukup Besar

nhri – Sebuah kelompok hak asasi terkemuka di Pakistan telah menyatakan “kekhawatiran yang cukup besar” atas keadaan kebebasan beragama di negara tersebut.
Dalam laporannya berjudul Pelanggaran Keyakinan: Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan pada 2021-22 yang dirilis pada Selasa, Komisi Hak Asasi Manusia Pakistan (HRCP) mengatakan insiden penganiayaan di negara minoritas agama tetap konsisten antara Juli 2021 dan Juni 2022.
Baca Juga : Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa: Pemerintah Tidak Boleh Menyebut Agama Minoritas “Kultus”
Laporan HRCP berfokus pada konversi paksa, penodaan tempat ibadah milik minoritas dan marginalisasi komunitas Ahmadi .
Ia juga mempertanyakan kurikulum nasional standar di beberapa bagian Pakistan, yang menurut kelompok itu telah menciptakan “narasi eksklusif yang mengesampingkan agama minoritas Pakistan”.
Laporan tersebut mengatakan bahwa pada tahun 2021 saja, “sekitar 60 kasus pemaksaan pindah agama dilaporkan di media lokal, di mana 70 persennya adalah anak perempuan di bawah usia 18 tahun”, kebanyakan dari provinsi Sindh.
Bulan lalu, sekelompok pakar hak asasi manusia dari PBB juga menyesalkan penculikan, pernikahan paksa, dan konversi anak perempuan dari agama minoritas Pakistan, meminta pemerintah untuk mengambil tindakan.
Konversi paksa dan pernikahan paksa dilarang dalam Islam.
Menurut laporan HRCP, Muslim berjumlah sekitar 96 persen dari 207 juta penduduk Pakistan, Hindu 2,1 persen, Kristen sekitar 1,6 persen, sedangkan Ahmadiyah hanya sekitar 0,2 persen.
Komunitas Muslim Syiah Pakistan, meski tidak dihitung sebagai agama minoritas dalam data sensus, berjumlah sekitar 20 persen dari total populasi.
Para Ahmadi menganggap diri mereka Muslim tetapi dilarang menyebut diri mereka seperti itu, atau mempraktikkan aspek-aspek keimanan mereka di bawah undang-undang penistaan ??agama yang ketat di Pakistan.
HRCP mengatakan ambang batas bukti terkait tuduhan penistaan ??agama harus diajukan di negara tersebut.
“Perlu dipastikan bahwa masyarakat tidak menggunakan undang-undang ini sebagai senjata untuk menyelesaikan dendam pribadi, seperti yang sering terjadi,” ujarnya.
Data tahun 2021, dikutip HRCP, menunjukkan setidaknya ada 585 kasus penistaan ??agama yang didaftarkan polisi, kebanyakan di provinsi Punjab. Dari jumlah tersebut, setidaknya 16 kasus diajukan terhadap anggota komunitas Ahmadiyah.
Menurut penghitungan Al Jazeera, setidaknya 80 orang telah dibunuh sehubungan dengan tuduhan penistaan ??agama di Pakistan sejak tahun 1990.
Laporan HRCP lebih lanjut mengatakan lebih dari setengah dari semua ujaran kebencian online (53 persen) di Pakistan diarahkan pada komunitas Ahmadiyah, dan membuat beberapa rekomendasi untuk melindungi minoritas negara tersebut.
Kelompok itu mengatakan kurikulum nasional yang kontroversial harus direvisi untuk memastikan mata pelajaran sekuler tidak mengandung konten keagamaan atau “materi apa pun yang mendiskriminasi agama minoritas dan sekte atau keyakinan mereka”.
“Kecuali langkah-langkah ini diterapkan segera, Pakistan akan terus mendorong iklim impunitas bagi para pelaku diskriminasi dan kekerasan berbasis agama, memungkinkan ruang yang sudah sempit untuk kebebasan beragama semakin menyusut,” kata HRCP dalam pernyataannya.
Kelompok hak asasi menyerukan undang-undang yang mendesak untuk mengkriminalisasi konversi paksa dan menuntut negara melakukan upaya bersama untuk melawan kekerasan sektarian dengan mengembangkan narasi nasional yang “jelas menghindari ekstremisme agama dan mayoritarianisme”.
Ia juga meminta pembentukan komisi perwakilan nasional yang otonom untuk agama minoritas yang akan dibentuk melalui undang-undang parlemen.
Direktur HRCP Farah Zia mengatakan, klaim pemerintah untuk melindungi kelompok agama minoritas tidak bisa dilihat secara terpisah dan terkait dengan kebijakan jangka panjang negara yang mengkhianati hubungan yang tidak nyaman dengan komunitas minoritas.
Dia mengatakan ironis bahwa meskipun menjadi negara mayoritas Muslim, Pakistan telah berjuang dengan gagasan kewarganegaraan yang setara sejak awal.
“Ini tercermin dalam klausul diskriminatif konstitusi serta penganiayaan mengerikan terhadap minoritas oleh masyarakat luas,” kata Zia kepada Al Jazeera.
“Komposisi Komisi Nasional untuk Minoritas yang problematis, kurikulum nasional tunggal, dan kejadian pemaksaan perpindahan agama hanya membuktikan rasa ketidakamanan mayoritas ini.”
Patricia Gossman, direktur Asia untuk Human Rights Watch, mengatakan laporan HRCP menyoroti kebebasan beragama dan berkeyakinan di Pakistan.
“Pihak berwenang perlu mengambil langkah-langkah mendesak untuk mengakhiri diskriminasi hukum terhadap minoritas agama dan untuk mencegah penganiayaan agama dan marginalisasi minoritas. Pihak berwenang juga perlu meminta pertanggungjawaban pelaku kekerasan dan diskriminasi terhadap agama minoritas,” katanya kepada Al Jazeera.
Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa: Pemerintah Tidak Boleh Menyebut Agama Minoritas “Kultus”
Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa: Pemerintah Tidak Boleh Menyebut Agama Minoritas “Kultus” – Pengadilan memenangkan tiga gereja Injili Bulgaria, dan mengatakan hukum kasusnya telah “berkembang” sejak menolak untuk menyensor dua laporan Prancis tentang “sekte” pada tahun 2001.
Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa: Pemerintah Tidak Boleh Menyebut Agama Minoritas “Kultus”

nhri – Bisakah pemerintah menyebut agama minoritas sebagai “kultus” dalam dokumen resminya? Atau “sekte”, ungkapan bahasa Prancis yang harus diterjemahkan dalam bahasa Inggris sebagai “kultus” daripada “sekte”, seperti kata-kata paralel dalam banyak bahasa lain yang berasal dari bahasa Latin “sekta”? Tidak, kata Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa (ECHR) pada 12 Desember dalam kasus “ Tonchev dan Lainnya v. Bulgaria .”
Pertanyaan tersebut memiliki sejarah di ECHR, ditandai dengan dua keputusan lama tahun 2001 dan 2008, yang tampaknya telah menyelesaikan pertanyaan tersebut dengan berpihak pada pemerintah yang menggunakan bahasa tersebut.
Baca Juga : Ahmadiyah Membela Hak Asasi Manusia, Bukan untuk Diri Sendiri
Pada tahun 2001, ECHR menyatakan tidak dapat diterimapermohonan oleh Saksi-Saksi Yehuwa Prancis, yang mengeluh karena disebut sebagai “kultus” (sekte) dalam dua laporan parlemen Prancis tahun 1995 dan 1999. Faktanya, ECHR hanya memeriksa laporan tahun 1999, bukan laporan tahun 1995 dan laporannya.
“daftar kultus” yang terkenal, karena sehubungan dengan yang terakhir disimpulkan bahwa Saksi-Saksi Yehuwa terlambat mengajukan keluhan mereka. Alih-alih memeriksa secara substansial pertanyaan tentang istilah “kultus” (sekte), ECHR mendasarkan keputusannya pada fakta bahwa “laporan parlemen tidak memiliki dampak hukum dan tidak dapat menjadi dasar untuk proses pidana atau administrasi apa pun.”
Jika mereka merasa didiskriminasi dalam persidangan seperti itu, Saksi-Saksi Yehuwa Prancis diundang untuk mengajukan tindakan terpisah yang mereka lakukan, dan akhirnya memenangkan kasus penting melawan Prancistentang pajak mereka pada tahun 2011.
Pada tahun 2008, dalam “ Leela Förderkreis eV and Others v. Germany” ECHR memutuskan melawan kelompok berdasarkan ajaran “Osho” Rajneesh yang telah disebut “pemujaan” (sekten) “destruktif” dalam laporan oleh otoritas Jerman yang berbeda.
Berbeda dengan keputusan tahun 2001 tentang Prancis, “Förderkreis” menilai apakah istilah yang digunakan oleh pemerintah membahayakan kebebasan beragama para penganut Osho. ECHR menyatakan bahwa “istilah yang digunakan untuk menggambarkan gerakan asosiasi pemohon mungkin memiliki konsekuensi negatif bagi mereka.
Tanpa memastikan tingkat dan sifat pasti dari konsekuensi tersebut, Pengadilan melanjutkan dengan asumsi bahwa pernyataan Pemerintah yang dipermasalahkan merupakan campur tangan terhadap hak asosiasi pemohon untuk menjalankan agama atau kepercayaan mereka, sebagaimana dijamin oleh Pasal 9 § 1 [Eropa ] Konvensi [tentang Hak Asasi Manusia.]”
Namun, ECHR menemukan bahwa dalam kasus tertentu penggunaan istilah “kultus” (sekte) dan sejenisnya, meskipun tidak tepat, dibenarkan oleh ketentuan yang ada dalam hukum Jerman pada waktu itu yang bukan merupakan pelanggaran hukum prima facie.
Tetapi ECHR juga mengatakan bahwa fakta bahwa “Pemerintah [Jerman] tidak dapat disangkal menahan diri untuk tidak menggunakan istilah ‘sekte’ lebih lanjut dalam kampanye informasi mereka mengikuti rekomendasi yang terkandung dalam laporan ahli tentang ‘sekte dan psikokultus’ yang dikeluarkan di 1998” membawa bobot dalam keputusannya.
Namun, pada tahun 2021, dalam kasus “ Pusat Masyarakat untuk Kesadaran Krishna di Rusia dan Frolov v. Rusia ,” ECHR memutuskan menentang brosur Rusia yang menyebut ISKCON, yang dikenal sebagai gerakan Hare Krishna, sebagai “kultus totaliter” dan “kultus destruktif,” dan menyimpulkan bahwa “dengan menggunakan bahasa yang menghina dan tuduhan yang tidak berdasar untuk menggambarkan keyakinan agama pusat pelamar” pemerintah Rusia telah melanggar kebebasan beragama ISKCON .
Pada tanggal 13 Desember 2022, ECHR memutuskan kasus “Tonchev dan Lainnya v. Bulgaria,” yang dihasilkan dari pengaduan tiga gereja Injili dan Pentakosta dari kota Burgas di Bulgaria, Gereja Kabar Baik Bulgaria Bersatu, Gereja Evangelis Kongregasional Pertama, dan Gereja Pentakosta Injili Philadelphia.
Bersama dengan Saksi-Saksi Yehuwa dan Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir, yang dikenal sebagai Gereja “Mormon”, mereka menjadi sasaran pada tahun 2008 melalui surat yang dikirim ke semua sekolah umum oleh Kota Burgas.
Surat tersebut meminta sekolah untuk menjelaskan kepada semua murid bahwa kelompok yang disebutkan dalam teks adalah “sekte” (секти, sekti), tidak boleh disamakan dengan Gereja Ortodoks Bulgaria yang sah, “berbahaya”, dan mengekspos anggotanya ke “gangguan mental”. masalah kesehatan.”
Dalam pembelaannya, pemerintah Bulgaria bersikeras pada keputusan ECHR 2001 atas laporan Prancis, dan mengklaim bahwa tidak ada konsekuensi negatif yang memengaruhi ketiga gereja Injili karena surat tersebut. Itu juga berpura-pura bahwa “sakti” dalam bahasa Bulgaria tidak memiliki konotasi negatif, sebuah argumen yang gagal dipertimbangkan oleh ECHR.
Mengutip keputusan tahun 2021 tentang Hare Krishna Rusia, ECHR menjawab bahwa “hukum kasusnya setelah keputusan [2001] yang disebutkan di atas ‘Fédération chrétienne des témoins de Jéhovah de France’ menandai sebuah evolusi atas pertanyaan apakah penggunaan syarat-syarat yang mendiskualifikasi sehubungan dengan komunitas agama dapat dianalisis sebagai pelanggaran hak-hak yang dijamin oleh Pasal 9 Konvensi.”
Baru-baru ini, “Pengadilan telah mempertimbangkan bahwa penggunaan istilah-istilah yang bermusuhan atau merendahkan dalam mengacu pada suatu komunitas keagamaan dalam dokumen-dokumen yang dikeluarkan oleh otoritas publik, sejauh hal itu mungkin memiliki konsekuensi negatif terhadap pelaksanaan kebebasan beragama oleh para anggotanya, cukup untuk merupakan pelanggaran terhadap hak-hak yang dijamin oleh Pasal 9 Konvensi.”
Dalam kasus khusus Burgas, “Pengadilan menganggap bahwa istilah yang digunakan dalam surat edaran dan catatan informasi tertanggal 9 April 2008, yang menggambarkan arus keagamaan tertentu, termasuk Evangelikalisme yang menjadi anggota asosiasi pemohon, sebagai ‘pemujaan agama yang berbahaya’.
Yang ‘bertentangan dengan undang-undang Bulgaria, hak-hak warga negara dan ketertiban umum’ dan pertemuan-pertemuan yang memaparkan para pesertanya pada ‘gangguan psikologis,’ memang dapat dianggap merendahkan dan bermusuhan.
Dicatat bahwa dokumen-dokumen tersebut didistribusikan oleh balai kota Burgas, kota di mana asosiasi pelamar dan pendeta beroperasi, ke semua sekolah di kota, yang diundang untuk menarik perhatian para murid dan untuk melaporkan cara penyampaian informasi dan cara anak-anak bereaksi.
Setelah “Tonchev”, akan semakin sulit bagi pemerintah untuk mengandalkan keputusan lama tahun 2001 tentang laporan Prancis. “Tonchev” sekarang telah menetapkan bahwa menyebut agama minoritas sebagai “kultus” akan menimbulkan konsekuensi negatif, dan bahasa fitnah seperti itu harus dihindari oleh otoritas publik.
Ahmadiyah Membela Hak Asasi Manusia, Bukan untuk Diri Sendiri
Ahmadiyah Membela Hak Asasi Manusia, Bukan untuk Diri Sendiri – Bitter Winter menghadiri Simposium Perdamaian Nasional 2023 yang diselenggarakan oleh Jama’at Muslim Ahmadiyah dan peresmian gedung baru di masjid Baitul Futuh di London. Pada tanggal 4 Maret 2023, Jama’at Muslim Ahmadiyah (AMJ) (“jama’at” yang berarti “komunitas”) merayakan momen penting, tidak hanya untuk komunitasnya yang tinggal di Inggris, tetapi untuk seluruh jama’at internasional tradisi spiritual ini.
Ahmadiyah Membela Hak Asasi Manusia, Bukan untuk Diri Sendiri

nhri – Kompleks baru diresmikan di Masjid Baitul Futuh (“Rumah Kemenangan”) di Morden, sebuah distrik dan kota di Merton, wilayah selatan London, Inggris, Inggris, oleh pemimpin Ahmadiyah, Yang Mulia Sahibzada Mirza Ahmad Masroor Sahib, Khalifah ke -5 . Pada kesempatan khidmat itu, dia menanam pohon dan meluncurkan plakat peresmian.
Gedung lima lantai yang baru menampung kantor administrasi, dua aula serbaguna besar, dan ruang tamu untuk masyarakat. Itu dibangun kembali, setelah kebakaran menghancurkan sekitar setengahnya pada 26 September 2015 (untungnya tanpa korban), menjadi sebuah bangunan yang indah, menafsirkan gaya Islam dengan pendekatan Barat minimalis modern dan menggabungkan keindahan dengan fungsionalitas.
Baca Juga : Hak Asasi Manusia di Amnesti Internasional Amerika Serikat
Upaya tersebut menelan biaya 1,20 juta pound, semuanya dikumpulkan dari sumbangan pribadi dan gratis dari orang percaya. Baitul Futuh seluas 2,1 hektar (yang tidak tersentuh oleh kebakaran tahun 2015) adalah rumah bagi salah satu masjid terbesar (jika bukan yang terbesar) di Eropa Barat, dan dapat menampung sekitar 10.000 jemaah, berfungsi sebagai pusat spiritual untuk masyarakat.
Faktanya di Inggris hari ini Khalifah Ahmadi ke -5 hidup. Dia kadang-kadang disebut sebagai “hudhur”, sebuah gelar dalam bahasa Urdu yang awalnya berasal dari kata Arab yang dapat diterjemahkan sebagai “Keunggulan” atau “Keunggulan;” biasanya diterapkan pada orang suci, itu sama dengan gelar “Yang Mulia” yang paling sering digunakan oleh para Ahmadi.
Setelah menderita hukuman penjara pada tahun 1999, Masroor terpaksa melarikan diri ke pengasingan ketika dia terpilih sebagai Khalifah baru pada tahun 2003, karena penganiayaan negara terhadap Ahmadiyah yang dilakukan Pakistan sejak paruh pertama tahun 1980-an.
Dia sekarang tinggal di kompleks Islamabad desa Tilford, di Surrey County, Inggris, di mana kantor pusat internasional AMJ dan Masjid Mubarak (“Diberkati”) berada. Ia sering membimbing salat berjamaah di Baitul Futuh London.
Di Baitul Futuh, acara komunitas penting lainnya yang beresonansi internasional berlangsung, terutama Simposium Perdamaian Nasional yang setiap tahun memberikan Penghargaan Muslim Ahmadiyah untuk Kemajuan Perdamaian.
Diluncurkan pada tahun 2009 untuk mengakui kontribusi individu atau organisasi untuk perdamaian dunia, itu telah disampaikan kepada mereka yang sangat dihormati oleh Khalifah sejak tahun 2010, dan termasuk penghargaan sebesar 10.000 pound.
Pada 4 Maret, peresmian gedung baru di Baitul Futuh bertepatan dengan Simposium Perdamaian Nasional 2023 yang bertemakan “Landasan Perdamaian Sejati”. Dua orang dianugerahi Hadiah.
Hadiah 2019 (pada saat dibatalkan karena pembatasan COVID-19) diberikan kepada pekerja kemanusiaan dan amal Swiss Barbara Hofmann, pendiri dan CEO organisasi nirlaba Association en faveur de l’Enfance Mozambicaine-The Association for the Children of Mozambik berbasis di Beira, Mozambik.
Penghargaan 2023 diberikan kepada matematikawan Jepang dan mantan walikota Hiroshima, Akiba Tadatoshi, yang terkenal karena posisi dan aktivitasnya yang mendukung perdamaian dan menentang senjata nuklir. Usai pembacaan Al-Qur’an Surah al-A’raf ayat 56-59, diikuti dengan terjemahan bahasa Inggrisnya, beberapa otoritas mengambil lantai di depan ratusan orang dari puluhan negara dan agama yang berbeda.
Kemudian, Fareed Ahmad Sahib, Sekretaris Nasional Urusan Luar Negeri AMJ Inggris, membacakan pesan dari Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak. Diperkenalkan oleh Rafiq Hayat, Inggris AMJ Amir (kata Arab untuk “emir,” digunakan oleh AMJ untuk berarti Presiden Nasional), Sir Ed Davey MP, Pemimpin Demokrat Liberal, Paul Scully MP, Menteri Teknologi dan Ekonomi Digital, dan Fleur Anderson MP, Shadow Paymaster General, memberi hormat kepada para hadirin.
Dan setelah Hoffman dan Akiba menyampaikan pidato penerimaan mereka, Yang Mulia ke- 5Khalifah memberikan pidato utama, pidato yang bersemangat dengan intensitas dan nilai khusus bagi semua orang yang menghargai dan membela kebebasan beragama, berkeyakinan, dan berkeyakinan (FoRB), yang secara intrinsik mengarah pada apresiasi yang mendalam terhadap perdamaian universal.
Dua adalah fokus utama Khalifah. Pertama, dia mengecam perang agresi yang dilakukan Rusia terhadap Ukraina. Kita semua harus bekerja untuk perdamaian, katanya, sambil mmemberitahu bahwa ijin perang dapat terjadi jika dalam keadaan darurat atau ekstrim, seperti yang diajarkan Islam, terutama ketika kebebasan beragama atau agama itu sendiri dihancurkan secara kolektif.
“Ketika dua negara sedang berperang, pihak ketiga harus mencoba mendamaikan mereka dan membawa mereka ke solusi damai. Jika agresor terus mengobarkan perang, terserah negara lain untuk bergabung dan menggunakan kekuatan yang sesuai dan sah untuk menghentikan perang. penindas.”
Namun, dia menambahkan bahwa, “begitu kekejaman mereka berhenti, retribusi atau balas dendam yang tidak adil tidak boleh dilakukan.” Bahkan, seperti Quran bab. 5, ay. 9 mengajarkan, jelasnya, tidak seorang pun boleh membiarkan “permusuhan bangsa atau partai mana pun” mencegah dirinya “menjunjung tinggi standar keadilan dan kesetaraan yang sebenarnya.
Oleh karena itu, sanksi hukuman atau tindakan tidak adil lainnya yang mencegah suatu negara bergerak maju pascaperang dan membatasi kebebasan dan kemakmurannya harus dihindari dengan cara apa pun.” Tidak ada alasan untuk kebijakan agresif pemerintah Rusia, kata Khalifah, tetapi kita tidak boleh membingungkan pemerintah suatu negara dengan rakyatnya, terutama ketika permusuhan telah berakhir dan semua harus bekerja untuk rekonsiliasi dan rekonstruksi.
Kedua, pemimpin Ahmadiyah sedunia mengatakan bahwa, sebagai seorang Muslim shalat lima waktu sehari, “dalam setiap shalat, adalah kewajiban bagi semua untuk membaca surat pertama dari Al-Qur’an. Ini adalah ayat kedua, Allah Ta’ala menyatakan bahwa Dia adalah Tuhan seluruh alam dan semua orang.
Tidak hanya dia penyedia dan pendukung umat Islam, tetapi dia menyediakan dan mendukung orang-orang Kristen, Yahudi, Hindu, Sikh dan tentu saja orang-orang dari semua agama dan kepercayaan. Dia memberi mereka kehidupan dan memenuhi kebutuhan dasar mereka dengan rahmat dan kasih-Nya.”
Ini tentu saja berasal dari perspektif Muslim, dan kata-kata serta konsep yang digunakan di sini termasuk dalam tradisi Islam, tetapi pentingnya pemikiran Khalifah melampaui batasan pengakuan untuk menyampaikan pesan universal.
“Sejak awal Al-Qur’an,” Huzur melanjutkan, “Muslim diajari bahwa pilar fundamental ajaran Islam adalah bahwa seorang Muslim yang tulus tidak boleh menyakiti orang-orang dari keyakinan atau agama lain, memendam kebencian dalam bentuk apa pun, atau berbicara sakit dari mereka dengan cara apapun, karena kita semua adalah ciptaan Allah SWT.
Sungguh, kami percaya dan mengajarkan bahwa Allah SWT memenuhi kebutuhan mereka yang tidak menghargai rahmat-Nya dan menyangkal keberadaan-Nya. Dia tidak hanya merawat mereka, tetapi juga memberi mereka hasil kerja mereka.
Ini adalah konsep Tuhan yang maha pengasih yang kita percayai. Tentunya mereka yang percaya pada Tuhan yang begitu murah hati tidak akan pernah mencoba merusak kedamaian dan kesejahteraan orang lain. Oleh karena itu, Jamaah Muslim Ahmadiyah berusaha untuk menjaga perdamaian dan keharmonisan di seluruh dunia hanya untuk mencapai keintiman dan cinta dengan Tuhan yang maha pengasih dan penyayang.”
Dia kemudian menambahkan bahwa sementara kekerasan dapat dan memang datang dari semua kelompok agama, “setiap kelompok Muslim atau yang disebut Muslim yang melakukan kekejaman atau tindakan biadab melanggar prinsip agama mereka dan sepenuhnya bertanggung jawab atas hukuman yang berat.” Nilai dan universalitas pesan ini jangan disamakan dengan pendekatan relativis yang santai atau dialog antaragama yang dangkal yang akhirnya mengecewakan semua pihak.
Sebaliknya, itu adalah seruan yang kuat untuk semua orang dari kepercayaan apa pun dari seorang pemimpin agama, yang berakar kuat pada keyakinan spesifiknya, yang tidak dapat luput dari perhatian baik oleh orang percaya maupun mereka yang menghargai FoRB, baik mereka yang beragama maupun yang tidak beragama.
Hak Asasi Manusia di Amnesti Internasional Amerika Serikat
Hak Asasi Manusia di Amnesti Internasional Amerika Serikat – Pemerintahan Biden menyatakan niatnya untuk memulihkan catatan hak asasi manusia AS, tetapi hasil kebijakan dan praktiknya beragam.
Hak Asasi Manusia di Amnesti Internasional Amerika Serikat

nhri – Sementara itu terlibat kembali dengan lembaga hak asasi manusia internasional PBB dan upaya multilateral untuk memerangi perubahan iklim, pemerintah gagal mengadopsi kebijakan imigrasi dan suaka yang menghargai hak asasi manusia di perbatasan AS-Meksiko atau mewujudkan agenda terkait hak asasi manusia di tingkat domestik .
Latar belakang
Politik dalam negeri terus menghalangi tindakan pemerintah yang efektif untuk mengatasi perubahan iklim, serangan diskriminatif terhadap hak suara, atau pembatasan hak tingkat negara bagian yang melanggar hukum, termasuk hak atas kebebasan berkumpul secara damai dan hak reproduksi.
Beberapa politisi oposisi terus menantang hasil pemilu 2020 dengan klaim ketidakberesan pemilu yang tidak berdasar, yang menggoyahkan transfer kekuasaan secara damai pada bulan Januari melalui dorongan protes politik kekerasan yang bertujuan untuk membatalkan hasil pemilu.
hak-hak orang LGBTI
Pemerintahan Biden mengambil langkah-langkah untuk mencabut kebijakan diskriminatif pemerintahan sebelumnya terhadap orang-orang LGBTI, termasuk mencabut larangan transgender yang bertugas di militer dan memulihkan perlindungan bagi siswa dari diskriminasi berdasarkan orientasi seksual dan identitas gender.
Baca Juga : Peran Duta Besar dalam Mempromosikan Kebijakan Hak Asasi Manusia AS di Luar Negeri
Meskipun demikian, ratusan undang-undang tingkat negara bagian diperkenalkan yang akan membatasi hak-hak orang LGBT. Beberapa negara bagian memberlakukan undang-undang hak anti-LGBTI, termasuk larangan perawatan kesehatan yang menegaskan gender untuk transgender di bawah umur di Arkansas.
Hak seksual dan reproduksi
Pemerintahan Biden mencabut Aturan Lelucon Global, sebuah kebijakan yang membatasi bantuan luar negeri AS kepada organisasi asing yang memberikan informasi, rujukan, atau layanan untuk aborsi legal. Pemerintah negara bagian terus mengintensifkan upaya untuk membatasi hak seksual dan reproduksi dengan berupaya mengkriminalisasi aborsi dan membatasi akses ke layanan kesehatan reproduksi, memberlakukan lebih banyak pembatasan aborsi pada tahun 2021 dibandingkan tahun lainnya.
Di Texas, sebuah undang-undang diberlakukan untuk mengkriminalisasi aborsi sejak enam minggu setelah kehamilan sebelum kebanyakan orang mengetahui bahwa mereka hamil dan memprivatisasi penegakan hukum terhadap penyedia aborsi atau siapa pun yang “dicurigai” membantu orang tersebut melakukan aborsi.
Pada bulan September, Mahkamah Agung AS menolak untuk memerintahkan undang-undang Texas, dan mengizinkannya untuk mulai berlaku. Pada bulan Desember, Pengadilan mendengar argumen lisan mengenai undang-undang Mississippi yang melarang sebagian besar aborsi setelah 15 minggu, secara langsung menantang perlindungan federal yang ada atas hak aborsi di bawah Roe v. Wade.
Kekerasan terhadap perempuan
Perempuan adat terus mengalami tingkat perkosaan dan kekerasan seksual yang sangat tinggi dan tidak memiliki akses ke perawatan dasar pasca-pemerkosaan. Selain itu, perempuan Pribumi terus mengalami tingkat penghilangan dan pembunuhan yang tinggi. Jumlah pasti perempuan Pribumi yang menjadi korban kekerasan atau yang hilang tetap tidak diketahui karena pemerintah AS tidak mengumpulkan data atau berkoordinasi secara memadai dengan pemerintah suku.
Tingkat kekerasan pasangan intim tidak menunjukkan tanda-tanda melambat dari peningkatan mereka karena pandemi Covid-19 dan penguncian berikutnya, namun mekanisme legislatif utama untuk mendanai tanggapan dan pencegahan kekerasan tetap tidak berlaku karena Kongres kembali gagal untuk mengesahkan kembali Undang-Undang Kekerasan Terhadap Perempuan (VAWA).
Hak pengungsi dan migran
Pihak berwenang terus secara drastis membatasi akses ke suaka di perbatasan AS-Meksiko, mengakibatkan kerugian yang tidak dapat diperbaiki bagi ribuan orang, termasuk anak-anak, yang mencari perlindungan dari penganiayaan atau pelanggaran hak asasi manusia serius lainnya di negara asal mereka.
Pejabat kontrol perbatasan melakukan pushback yang tidak perlu dan melanggar hukum terhadap hampir 1,5 juta pengungsi dan migran di perbatasan AS-Meksiko, baik di dan di antara pelabuhan masuk resmi, dengan dalih ketentuan kesehatan masyarakat di bawah Judul 42 Kode AS selama Covid- 19 pandemi.
Orang-orang yang kembali secara singkat diusir tanpa akses ke prosedur suaka, upaya hukum, atau penilaian risiko individu. Setelah pengunduran dirinya, seorang penasihat hukum senior untuk Departemen Luar Negeri AS mengecam pengusiran massal pencari suaka Haiti sebagai pengembalian paksa yang melanggar hukum.
Meskipun pemerintahan Biden membebaskan anak-anak migran tanpa pendamping dari pengusiran berdasarkan Judul 42, Patroli Perbatasan AS menyalahgunakan undang-undang anti-perdagangan manusia untuk terus memulangkan ribuan anak Meksiko tanpa pendamping (lebih dari 95% dari mereka yang ditangkap), tanpa memberi mereka akses yang memadai ke suaka. prosedur atau pemeriksaan yang efektif untuk kerugian yang mungkin mereka hadapi saat kembali.
Penahanan sewenang-wenang
Tiga puluh sembilan pria Muslim ditahan secara sewenang-wenang dan tanpa batas waktu oleh militer AS di fasilitas penahanan di Pangkalan Angkatan Laut AS di Teluk Guantánamo, Kuba, yang melanggar hukum internasional. Pihak berwenang membuat sedikit kemajuan dalam menutup fasilitas tersebut, meskipun pemerintah Biden menyatakan niat untuk melakukannya.
Pada bulan Oktober, dua tahanan yang ditahan di Teluk Guantánamo disetujui untuk dipindahkan oleh Dewan Peninjau Berkala, sehingga jumlah tahanan yang tetap berada di fasilitas tersebut setelah dibebaskan untuk dipindahkan menjadi 12, beberapa selama lebih dari satu dekade.
Hanya dua tahanan yang telah dipindahkan dari fasilitas tersebut sejak Januari 2017, termasuk hanya satu sejak Joseph Biden menjabat. Tak satu pun dari tahanan yang tersisa memiliki akses ke perawatan medis yang memadai dan mereka yang selamat dari penyiksaan dan perlakuan buruk lainnya oleh agen AS tidak diberi layanan rehabilitasi yang memadai.
Sepuluh dari mereka menghadapi dakwaan dalam sistem komisi militer, melanggar hukum dan standar internasional terkait dengan pengadilan yang adil, dan dapat menghadapi hukuman mati jika terbukti bersalah. Penggunaan hukuman mati dalam kasus-kasus ini, setelah proses yang tidak memenuhi standar internasional, merupakan pencabutan nyawa secara sewenang-wenang.
Persidangan terhadap mereka yang dituduh melakukan kejahatan terkait serangan 11 September 2001 dijadwalkan akan dimulai pada 11 Januari 2021, tetapi setelah penangguhan persidangan pada tahun 2020 dan sebagian besar tahun 2021, kasus tersebut sama sekali tidak siap untuk diadili, setelah sembilan tahun praperadilan audiensi.
Kebebasan berkumpul
Pihak berwenang gagal mengadopsi dan menerapkan langkah-langkah pengawasan dan akuntabilitas polisi yang signifikan yang dijanjikan oleh pemerintahan Biden sebagai tanggapan atas protes nasional terhadap kekerasan polisi pada tahun 2020, yang ditandai dengan meluasnya penggunaan kekuatan berlebihan oleh lembaga penegak hukum.
Sebaliknya, anggota parlemen di setidaknya 36 negara bagian dan di tingkat federal memperkenalkan lebih dari 80 rancangan undang-undang yang membatasi kebebasan berkumpul, dengan sembilan negara bagian memberlakukan 10 undang-undang semacam itu menjadi undang-undang pada tahun 2021. Pada akhir tahun, 44 undang-undang lainnya tertunda di 18 negara bagian.
Pembatasan hukum yang diusulkan atas kebebasan berkumpul termasuk peningkatan hukuman untuk tindakan pembangkangan sipil yang berkaitan dengan proyek infrastruktur seperti pipa, menghalangi jalan dan mengotori monumen. Undang-undang lain berusaha untuk mencegah pengurangan anggaran pengawasan oleh pemerintah daerah dan menghapus tanggung jawab perdata bagi pengemudi mobil yang menabrak pengunjuk rasa yang memblokir jalan, antara lain.
Sebaliknya, badan legislatif negara bagian California memberlakukan undang-undang baru yang memberikan perlindungan luas kepada jurnalis yang meliput pertemuan publik, yang sering menjadi sasaran penangkapan dan kekerasan oleh petugas penegak hukum pada tahun 2020, dan menciptakan standar dan peraturan di seluruh negara bagian untuk penggunaan senjata proyektil dampak kinetik oleh penegak hukum dan bahan kimia selama pertemuan umum.
Penggunaan kekuatan yang berlebihan
Setidaknya 1.055 orang dilaporkan tewas oleh polisi menggunakan senjata api pada 2021, sedikit meningkat dari tahun-tahun sebelumnya. Data publik terbatas yang tersedia dari 2015 hingga 2021 menunjukkan bahwa orang kulit hitam secara tidak proporsional terkena dampak penggunaan kekuatan mematikan oleh polisi. Program pemerintah federal untuk melacak berapa banyak kematian yang terjadi setiap tahun tetap tidak dilaksanakan.
Pada bulan April, badan legislatif negara bagian Maryland meloloskan dan mengesampingkan veto gubernur atas undang-undang penggunaan kekuatan, menyisakan hanya enam negara bagian tanpa undang-undang tersebut untuk mengatur penggunaan kekuatan polisi. Namun, tidak ada undang-undang negara bagian yang mengatur penggunaan kekuatan mematikan oleh polisi jika ada undang-undang semacam itu yang mematuhi hukum dan standar internasional.
Senat AS gagal untuk memperkenalkan George Floyd Justice in Policing Act, sebuah RUU yang menyediakan serangkaian proposal bipartisan untuk mereformasi aspek-aspek tertentu dari kepolisian.
Pembela hak asasi manusia
Laporan Negara tentang Praktek Hak Asasi Manusia tahunan yang dikeluarkan oleh Departemen Luar Negeri AS disertai dengan pengakuan publik oleh Sekretaris Negara tentang pentingnya, dan risiko yang dihadapi oleh, pembela hak asasi manusia. Pemerintahan Biden juga menerbitkan kembali kebijakannya tentang Dukungan AS untuk Pembela Hak Asasi Manusia, yang telah dikesampingkan selama beberapa tahun.
Pada bulan Mei, media berita mengungkapkan bahwa otoritas AS melacak dan melecehkan pembela hak asasi manusia yang aktif di wilayah perbatasan AS-Meksiko selama 2018 dan 2019, termasuk melalui daftar aktivis AS yang ilegal, yang dirinci dalam laporan Amnesty International tahun 2019, ‘Menyelamatkan Kehidupan bukanlah sebuah Kejahatan’: Pelecehan Hukum Bermotivasi Politik terhadap Pembela HAM Migran oleh AS .
Pembela hak asasi manusia dan jurnalis terus melaporkan intimidasi dan pelecehan oleh pihak berwenang ketika melintasi perbatasan atau ketika melakukan pekerjaan mereka di Meksiko, yang berdampak pada kemampuan mereka untuk melakukan pekerjaan dan kesejahteraan mereka secara keseluruhan.
Pada bulan September, Kantor Inspektur Jenderal Departemen Keamanan Dalam Negeri mengeluarkan laporan yang mengkonfirmasikan bahwa pejabat agensi melecehkan jurnalis dan aktivis perbatasan secara tidak sah tanpa dasar hukum yang sesuai dan, dalam beberapa kasus, tampaknya menutupi pelanggaran mereka dengan menghancurkan bukti komunikasi dan komunikasi mereka. berkoordinasi dengan otoritas Meksiko dalam pelanggaran tersebut.
Hukuman mati
Pada bulan Maret, Virginia menjadi negara bagian AS ke-23 yang menghapus hukuman mati.
Selama hari-hari terakhir pemerintahan Trump pada bulan Januari, pemerintah federal melakukan tiga eksekusi, melanjutkan pembalikan sejak 2020 dari moratorium 17 tahun eksekusi federal. Pada Juli 2021, Departemen Kehakiman AS memberlakukan moratorium eksekusi federal di tengah peninjauan kebijakan departemen terkait hukuman mati.
Namun, pemerintah federal terus mengejar hukuman mati dalam kasus-kasus tertentu. Eksekusi negara dilanjutkan pada tahun 2021 setelah jeda pada tahun 2020 karena pandemi Covid-19 yang sedang berlangsung serta penyelesaian litigasi atas protokol eksekusi di negara bagian tertentu.
Penyiksaan dan perlakuan buruk lainnya
Satu dekade setelah lusinan tahanan ditahan dalam sistem penahanan rahasia yang dioperasikan CIA – yang disahkan dari tahun 2001 hingga 2009 tidak ada seorang pun yang diadili atas pelanggaran hak asasi manusia sistematis yang dilakukan di bawah program itu, termasuk penghilangan paksa, penyiksaan dan penyakit lainnya.
Laporan Komite Intelijen Senat tentang penyiksaan CIA tetap dirahasiakan, bertahun-tahun setelah investigasi terbatas yang dilakukan atas kejahatan tersebut ditutup tanpa tuduhan terhadap siapa pun.
Hak untuk hidup dan keamanan pribadi
Kongres AS tidak mengeluarkan peraturan apa pun tentang akses ke senjata api pada tahun 2021. Kegagalan pemerintah yang berkelanjutan untuk melindungi orang-orang dari kekerasan senjata yang terus-menerus terus melanggar hak asasi mereka, antara lain hak untuk hidup, keamanan seseorang dan kebebasan dari diskriminasi. .
Lonjakan penjualan senjata api selama pandemi Covid-19, akses tak terbatas ke senjata api, kurangnya undang-undang keselamatan senjata api yang komprehensif (termasuk regulasi yang efektif untuk akuisisi, kepemilikan dan penggunaan senjata api), dan kegagalan untuk berinvestasi dalam program intervensi dan pencegahan kekerasan senjata api yang memadai , melanggengkan kekerasan ini.
Setidaknya 44.000 orang diperkirakan tewas akibat kekerasan senjata pada tahun 2020. Selama pandemi Covid-19 pada tahun 2020 dan 2021, beberapa otoritas pemerintah negara bagian memperburuk kekerasan senjata dengan menunjuk toko senjata sebagai “bisnis penting”.
Pada bulan Mei, Departemen Kehakiman AS mengusulkan peraturan yang akan memperbarui definisi “senjata api” dan komponen senjata api terkait untuk pertama kalinya sejak 1968, mencatat bahwa 23.000 senjata api yang tidak diserialisasi (dikenal sebagai “senjata hantu”) dilaporkan memiliki telah ditemukan oleh penegak hukum dari TKP potensial antara 2016 dan 2020.
Pada November 2021, Mahkamah Agung AS menyidangkan kasus pertamanya terkait hak senjata dalam lebih dari satu dekade. Keputusan akhir dalam kasus ini dapat menentukan apakah individu dapat membawa senjata api di depan umum tanpa menunjukkan “penyebab yang tepat” atau memenuhi ambang batas perizinan.
Pembunuhan warga sipil yang melanggar hukum
Pemerintah AS berulang kali menggunakan kekuatan mematikan di negara-negara di seluruh dunia, termasuk dengan drone bersenjata, yang melanggar kewajibannya berdasarkan hukum hak asasi manusia internasional dan, jika berlaku, hukum humaniter internasional.
LSM, pakar PBB, dan media berita mendokumentasikan bagaimana serangan semacam itu di dalam dan di luar zona konflik bersenjata aktif mengakibatkan cedera atau secara sewenang-wenang mencabut hak individu yang dilindungi, termasuk banyak warga sipil, untuk hidup, dalam beberapa kasus merupakan kejahatan perang.
Pemerintah AS melemahkan perlindungan bagi warga sipil selama operasi mematikan, yang meningkatkan kemungkinan pembunuhan di luar hukum; menghambat penilaian legalitas mogok; dan mencegah akuntabilitas dan akses ke keadilan dan pemulihan yang efektif bagi korban pembunuhan di luar hukum dan kerugian sipil.
Pemerintah terus menyembunyikan informasi mengenai standar dan kriteria hukum dan kebijakan yang diterapkan oleh pasukan AS ketika menggunakan kekuatan mematikan, meskipun para pakar hak asasi manusia PBB mengklarifikasi poin-poin tersebut.
Pihak berwenang juga gagal memberikan reparasi atas pembunuhan warga sipil. Pemerintahan Biden memulai peninjauan kebijakan kekuatan mematikan, namun gagal memberikan informasi apa pun tentang bagaimana atau apakah kebijakan tersebut akan berubah. Sementara itu, pasukan AS terus terlibat dalam serangan pesawat tak berawak, yang mengakibatkan pembunuhan dan melukai warga sipil secara tidak sah.
Hak atas perumahan
Pada bulan Maret, pemerintahan Biden menerima rekomendasi UPR dari Dewan Hak Asasi Manusia PBB untuk menjamin hak atas perumahan dan memerangi tunawisma. Namun, karena moratorium penggusuran tingkat federal dan negara bagian selama pandemi Covid-19 mulai berakhir pada paruh kedua tahun 2021, Mahkamah Agung AS membatalkan upaya pemerintahan Biden untuk memperpanjang moratorium federal dengan alasan kesehatan masyarakat selama berlangsungnya pandemi.
Secara bersamaan, beberapa pemerintah negara bagian dan kota mengakhiri tindakan khusus sementara untuk menampung mereka yang mengalami tunawisma dan beberapa kota melanjutkan atau memperluas penghancuran perkemahan tunawisma.
Anggota Kongres AS memperkenalkan kembali Perumahan adalah Undang-Undang Hak Asasi Manusia untuk mengatasi akar penyebab tunawisma dan mentransisikan semakin banyak orang yang mengalami tunawisma ke perumahan dan tempat berlindung lainnya.
Kegagalan untuk mencegah perubahan iklim dan degradasi lingkungan
Pemerintahan Biden bergabung kembali dengan Perjanjian Paris dan berusaha membalikkan ratusan undang-undang dan kebijakan yang disahkan selama pemerintahan sebelumnya untuk menderegulasi sektor lingkungan dan energi.
Undang-undang itu termasuk pencabutan aturan tentang abu batu bara dan pembangkit listrik tenaga batu bara. Namun, pemerintah tidak berhasil membatalkan semua tindakan regresif dan terus menyetujui proyek pengeboran minyak di tanah federal.
Selama tahun 2021, bencana alam terkait perubahan iklim yang sering terjadi di seluruh AS mengakibatkan kehancuran dan kematian, termasuk kebakaran hutan yang memecahkan rekor, angin topan, dan banjir di wilayah pesisir.
Mekanisme dan perjanjian hak asasi manusia internasional
Pemerintahan Biden mengambil sejumlah langkah positif selama tahun pertamanya menjabat untuk mendukung dan mendukung kerangka kerja dan mekanisme pengawasan hak asasi manusia internasional.
Pada bulan Maret, pemerintah menerima sebagian besar rekomendasi dari Dewan Hak Asasi Manusia setelah UPR ketiga AS, meskipun mencatat bahwa mereka hanya mendukung beberapa rekomendasi pada prinsipnya yang mungkin tidak diterapkan, termasuk menutup fasilitas penahanan Teluk Guantánamo.
Pada bulan April, pemerintah mencabut sanksi terhadap personel ICC yang diberlakukan oleh pemerintahan sebelumnya, meskipun terus menolak yurisdiksi ICC atas dugaan kejahatan perang AS di Afghanistan, Irak, atau di tempat lain.
Pada bulan Oktober, AS bergabung kembali dengan Dewan Hak Asasi Manusia PBB, tiga tahun setelah pemerintahan sebelumnya meninggalkan kursinya di badan tersebut, dan mengeluarkan undangan tetap untuk Prosedur Khusus PBB. Pada bulan November, Pelapor Khusus PBB untuk Isu-isu Minoritas melakukan kunjungan negara ke AS, yang merupakan misi pertama dari Prosedur Khusus PBB sejak 2017.
Peran Duta Besar dalam Mempromosikan Kebijakan Hak Asasi Manusia AS di Luar Negeri
Peran Duta Besar dalam Mempromosikan Kebijakan Hak Asasi Manusia AS di Luar Negeri – Duta besar adalah pemain kunci dalam menentukan trade-off yang sulit atau penekanan kebijakan: antara tujuan jangka pendek dan jangka panjang, antara prioritas eksekutif dan legislatif, antara kepentingan strategis dan perhatian khusus hak asasi manusia, antara diplomasi publik dan swasta, antara koersif dan pendekatan kooperatif, dan antara pendekatan unilateral dan multilateral untuk masalah tertentu.
Peran Duta Besar dalam Mempromosikan Kebijakan Hak Asasi Manusia AS di Luar Negeri

nhri – Duta Besar juga merupakan integrator di antara berbagai kelompok kepentingan dengan peran dalam membantu mempromosikan tujuan kebijakan hak asasi manusia AS di dalam negeri. Kelompok kepentingan tersebut termasuk komunitas bisnis, media, dan LSM lokal dan internasional.
Untuk mempersiapkan duta besar AS untuk peran kepala pelaksana kebijakan di dalam negeri, pertama-tama kita harus mendefinisikan peran mereka dalam kebijakan hak asasi manusia, dan kita harus mengidentifikasi alat baru (atau mengemas ulang yang sudah ada) untuk memberlakukan kebijakan hak asasi manusia.
Pembentukan strategi global untuk hak asasi manusia yang mencakup peran duta besar yang diartikulasikan dengan jelas akan berfungsi sebagai penyangga antara mereka yang menerapkan strategi yang diamanatkan dan mereka yang menentangnya. Strategi seperti itu diperlukan karena kebijakan hak asasi manusia AS sering ditafsirkan di negara tuan rumah sebagai ancaman terhadap kedaulatan nasional atau mempromosikan perubahan sosial atau rezim, dengan duta besar dipandang sebagai promotor utama dari “subversi” semacam itu.
Baca Juga : Laporan Dunia 2022 Lembaga Hak Asasi Manusia Amerika Serikat
Hak asasi manusia harus secara konsisten disajikan sebagai prioritas kebijakan luar negeri Amerika, dengan duta besar AS di dalam negeri dilihat sebagai promotor utama kebijakan tersebut. Sebagai salah satu isu kebijakan luar negeri yang paling sulit, kebijakan hak asasi manusia harus dipromosikan di seluruh lingkungan kebijakan luar negeri-baik domestik maupun internasional. Duta Besar AS memiliki peran penting dalam membangun konstituensi yang akan mendukung penekanan berkelanjutan pada hak asasi manusia baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang.
Proyek Implementasi Hak Asasi Manusia
Pada tahun 1999, Program Penelitian dan Studi Institut Perdamaian Amerika Serikat meluncurkan inisiatif baru tentang implementasi hak asasi manusia. Proyek ini berusaha untuk memeriksa secara kritis kebijakan hak asasi manusia yang diterapkan oleh pemerintah AS untuk mengidentifikasi cara-cara kebijakan ini dapat diperbaiki.
Proyek Implementasi Hak Asasi Manusia sedang menjajaki pertanyaan-pertanyaan berikut:
- Apa peran isu HAM dalam perumusan kebijakan luar negeri AS?
- Seberapa sukses atau tidak sukseskah pemerintah AS dalam meningkatkan praktik hak asasi manusia di luar negeri?
- Apa tantangan utama untuk menerapkan kebijakan hak asasi manusia yang efektif?
- Apa peran Cabang Eksekutif, Kongres, lembaga pemerintah lainnya, dan komunitas non-pemerintah dan bisnis dalam mempromosikan hak asasi manusia?
- Bagaimana pembuat kebijakan dapat memaksimalkan dampak mereka terhadap perlindungan dan pemajuan hak asasi manusia?
Institut sedang menjajaki pertanyaan-pertanyaan luas ini dari sudut pandang lembaga non-partisan yang didanai oleh kongres yang berkomitmen untuk memperluas pemahaman tentang konflik internasional dan sarana untuk mencegah, mengelola, dan menyelesaikannya.
Tentang Laporan
Institut Perdamaian Amerika Serikat baru-baru ini mengadakan diskusi meja bundar yang menampilkan sekelompok mantan duta besar AS yang membahas kebutuhan untuk meningkatkan peran kepala misi AS dalam menafsirkan dan menerapkan kebijakan hak asasi manusia AS di luar negeri. Sesi ini, bagian dari Proyek Implementasi Hak Asasi Manusia yang sedang berlangsung, sebuah upaya besar dari Program Riset dan Studi Institut, mempertemukan para mantan ketua misi dan pemimpin terkemuka dalam pembuatan kebijakan dan komunitas lembaga swadaya masyarakat (LSM).
Tujuan dari pertemuan tersebut adalah untuk menentukan bagaimana para duta besar dapat lebih efektif menerapkan kebijakan hak asasi manusia AS yang koheren. Pembicara termasuk Duta Besar Winston Lord, Smith Hempstone, Teresita Schaffer, Princeton Lyman, Robert White, J. Stapleton Roy, Jack Matlock, Mark Palmer, dan John Stempel. Laporan ini, yang disiapkan oleh petugas program Emily Metzgar dan Debra Liang-Fenton, meringkas diskusi di lokakarya ini dan memberikan ikhtisar rekomendasi yang dapat membantu menginformasikan pembuat kebijakan dan kepala misi mendatang dalam upaya mereka untuk meningkatkan kebijakan hak asasi manusia AS. Meskipun mewakili diskusi pada pertemuan ini, laporan tersebut tidak menyiratkan kebulatan pendapat di setiap poin.
Pandangan yang diungkapkan dalam laporan ini tidak mencerminkan pandangan Institut Perdamaian Amerika Serikat, yang tidak menganjurkan kebijakan tertentu.
Laporan Dunia 2022 Lembaga Hak Asasi Manusia Amerika Serikat
Laporan Dunia 2022 Lembaga Hak Asasi Manusia Amerika Serikat – Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Joe Biden dan Kongres AS mengambil langkah positif terkait hak asasi manusia dengan memperjuangkan hak-hak perempuan dan lesbian, gay, biseksual, transgender, dan interseks (LGBTI) yang telah dilemahkan di bawah pemerintahan sebelumnya, berkomitmen untuk keadilan rasial, dan mengambil tindakan untuk mengatasi pandemi Covid-19 dan dampak ekonominya yang berbahaya.
Laporan Dunia 2022 Lembaga Hak Asasi Manusia Amerika Serikat

nhri – Namun, Amerika Serikat terus gagal memenuhi komitmen hak asasi manusianya, terutama di bidang keadilan rasial sebagaimana tercermin dalam kegagalan negara tersebut untuk mengakhiri rasisme sistemik yang terkait dengan warisan perbudakan; struktur penahanan yang kejam, penegakan imigrasi, dan kontrol sosial yang memengaruhi banyak ras dan etnis minoritas; dan kesenjangan kekayaan Hitam-Putih yang bertahan di samping sedikit peningkatan ketidaksetaraan ekonomi secara keseluruhan.
Keadilan Ras
Komunitas kulit hitam, Latin, dan Pribumi telah dibebani secara tidak proporsional oleh dampak negatif Covid-19, yang memperdalam ketidakadilan rasial yang ada dalam perawatan kesehatan , perumahan , pekerjaan , pendidikan, dan akumulasi kekayaan.
Sementara kemiskinan turun secara keseluruhan karena pemeriksaan stimulus dan bantuan pengangguran, kesenjangan kekayaan Hitam-Putih, yang masih sebesar tahun 1968, bertahan. Di seluruh negeri, otoritas negara bagian dan lokal meluncurkan upaya reparasi yang berupaya memperbaiki kerusakan yang terlihat jelas dalam perbedaan ras saat ini dan terkait dengan warisan perbudakan.
Pada bulan April, Komite Kehakiman DPR AS memilih HR 40, Komisi untuk Mempelajari dan Mengembangkan Proposal Reparasi untuk Undang-Undang Afrika-Amerika, dari subkomite dan dipertimbangkan oleh dewan penuh untuk pertama kalinya dalam sejarah 32 tahun RUU tersebut.
Pada bulan Mei, Human Rights Watch bersaksi bersama para penyintas dan keturunan pembantaian ras Tulsa 1921 tentang kegagalan otoritas kota dan negara bagian di Tulsa, Oklahoma, untuk memberikan reparasi komprehensif menjelang seratus tahun pembantaian ras.
Menyusul Centennial pada bulan Juni, Dewan Kota Tulsa mengeluarkan resolusi permintaan maaf, tetapi gagal menangani kesalahan kota yang terdokumentasi dalam pembantaian tersebut atau memberikan reparasi penuh dan efektif. Insiden kejahatan kebencian yang menargetkan orang keturunan Asia dan orang kulit hitam melonjak secara signifikan pada tahun 2021 dibandingkan dengan level tahun 2019 .
Kemiskinan dan Ketimpangan
Ketimpangan ekonomi tetap tinggi dan sedikit meningkat di Amerika Serikat, dengan kesenjangan kekayaan meningkat lebih cepat daripada ketimpangan pendapatan. Total kekayaan gabungan miliarder AS meningkat dari $2,9 triliun pada Maret 2020 menjadi $4,7 triliun pada Juli 2021. Menurut sumber pemerintah AS, kemiskinan turun dan indikator kesulitan membaik sejak Desember 2020, terutama dibantu oleh tunjangan pemerintah.
Rencana Penyelamatan Amerika, yang diberlakukan pada 11 Maret, yang dibangun di atas pembayaran langsung sebelumnya oleh administrasi mantan Presiden Donald Trump, termasuk pembayaran $1.400 untuk sebagian besar orang dewasa di AS bersama dengan bantuan lain untuk rumah tangga yang kesulitan.
Kesulitan makanan di antara orang dewasa dengan anak-anak juga turun setelah pemerintah federal memulai pembayaran bulanan di bawah Kredit Pajak Anak yang diperluas pada 15 Juli , bersama dengan peningkatan bantuan makanan. Moratorium penggusuran federal dan negara bagian melindungi jutaan penyewa selama pandemi.
Namun, data Biro Sensus menunjukkan bahwa pada September 2021 sekitar 19 juta orang dewasa tinggal di rumah tangga dengan makanan yang tidak mencukupi, 11,9 juta orang dewasa tertinggal sewa, dan beberapa kemajuan dari akhir Maret terhenti karena tindakan bantuan dikurangi dalam negosiasi legislatif. Dampak pandemi dan kejatuhan ekonomi telah meluas, tetapi tetap lazim di antara orang dewasa kulit hitam, orang dewasa Latin, dan orang kulit berwarna lainnya .
Sistem Hukum Pidana
AS terus melaporkan tingkat penahanan kriminal tertinggi di dunia , dengan hampir 2 juta orang ditahan di penjara dan penjara negara bagian dan federal pada hari tertentu dan jutaan lainnya dalam pembebasan bersyarat dan masa percobaan.
Meskipun ada beberapa pengurangan dalam tingkat penahanan untuk orang kulit hitam , mereka tetap terwakili secara berlebihan di penjara dan penjara. Mengikuti tren yang dimulai pada tahun 2009, populasi penjara terus menurun, tanpa membongkar sistem penahanan massal secara substansial.
Lapas seringkali gagal memberikan perlindungan yang memadai terhadap infeksi Covid-19. Sepertiga dari semua orang di penjara AS telah tertular virus dan lebih dari 2.700 orang telah meninggal karenanya. Banyak yurisdiksi mengurangi penahanan sebagai tanggapan terhadap pandemi, tetapi populasi yang ditahan mulai kembali ke jumlah sebelum pandemi pada tahun 2021 bahkan ketika kasus varian Delta melonjak.
Terlepas dari seruan luas untuk reformasi sistemik selama musim panas 2020, terutama untuk mengurangi ketergantungan berlebihan pada kepolisian dan mengatasi masalah sosial dengan investasi dalam layanan pendukung, beberapa yurisdiksi telah memberlakukan tindakan yang berarti.
Beberapa daerah telah melakukan upaya untuk mengerahkan profesional perawatan kesehatan mental alih-alih polisi dalam keadaan yang sesuai; beberapa telah mendanai pengganggu kekerasan non-penegakan hukum. Namun, anggaran polisi secara keseluruhan belum menyusut . Kongres bahkan belum meloloskan reformasi lemah yang diusulkan dalam Undang-Undang Peradilan Federal dalam Pemolisian.
Sebagian besar departemen kepolisian AS menolak untuk melaporkan data tentang penggunaan kekuatan mereka, sehingga memerlukan pengumpulan dan analisis data nonpemerintah. Hingga 3 November, polisi telah membunuh lebih dari 900 orang pada tahun 2021, mirip dengan jumlah di tahun-tahun sebelumnya. Berdasarkan per kapita, polisi membunuh orang kulit hitam tiga kali lipat dari jumlah yang mereka bunuh orang kulit putih.
Anak-anak dalam Sistem Peradilan Pidana dan Anak
Meskipun terjadi penurunan jumlah pemuda yang dipenjara, perbedaan ras dan etnis terus berlanjut. The Sentencing Project melaporkan bahwa pemuda kulit hitam lebih dari empat kali, pemuda Latinx 1,3 kali, dan pemuda suku lebih dari tiga kali lebih mungkin dipenjara daripada pemuda kulit putih. Hampir dua dari tiga pemuda yang diperintahkan untuk ditempatkan di tempat tinggal ditempatkan di fasilitas yang paling ketat.
Kemajuan lambat sedang dibuat untuk mengakhiri hukuman seumur hidup tanpa pembebasan bersyarat untuk anak-anak. Menurut Kampanye Hukuman yang Adil untuk Pemuda, 30 negara bagian tidak memiliki seorang pun yang menjalani hukuman atau melarangnya untuk orang di bawah usia 18 tahun.
Kebijakan Narkoba
Kematian overdosis obat mencapai angka tertinggi yang pernah tercatat selama pandemi Covid-19 menurut data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), lebih dari 93.000 orang meninggal pada tahun 2020 akibat kematian overdosis obat meningkat 30 persen dibandingkan tahun 2019. Kematian overdosis ini adalah bagian dari peningkatan kematian yang terkait dengan pengangguran, keracunan alkohol, dan bunuh diri, keadaan yang terkait dengan ketidakamanan ekonomi dan tantangan kesehatan mental.
Sebuah studi Rhode Island menemukan peningkatan kematian overdosis di antara orang yang mengalami kehilangan pekerjaan dan subkelompok dengan diagnosis kesehatan mental pada tahun 2020 selama pandemi Covid-19 dibandingkan dengan tahun 2019. Undang-undang narkoba AS yang memprioritaskan kriminalisasi tidak mengatasi akar penyebab overdosis dan berdampak buruk pada komunitas kulit hitam dan coklat.
Baca Juga : Akankah Hak Asasi Manusia di Tiongkok Menjadi Korban Brexit?
Fokus berkelanjutan pada kriminalisasi dalam undang-undang semacam itu terus menjadi hambatan bagi layanan pengurangan dampak buruk yang menyelamatkan jiwa di banyak negara bagian, dan masih ada kesenjangan dalam perawatan berbasis bukti yang dapat diakses dan terjangkau untuk gangguan penggunaan zat.
Hak-hak Bukan Warga Negara
Terlepas dari janji yang dibuat selama kampanye kepresidenan, pemerintahan Biden tetap pada kebijakan era Trump yang menolak akses ke suaka di perbatasan AS. Pada saat penulisan, administrasi telah melakukan 753.038 pengusiran di bawah Judul 42 , sebuah kebijakan ilegal untuk mengusir migran yang tiba di perbatasan darat berdasarkan alasan kesehatan masyarakat.
Judul 42 pengusiran memilih migran yang tiba di perbatasan darat yang berkulit hitam, Pribumi, dan Latin secara tidak proporsional, terutama dari Amerika Tengah, Afrika, dan Haiti untuk perlakuan diskriminatif, sementara ribuan pelancong lainnya dapat melintasi perbatasan tanpa pemeriksaan kesehatan apa pun.
Pengusiran di bawah Judul 42 membahayakan para migran dengan ribuan orang yang menderita penculikan, pemerkosaan, penyerangan, pemerasan, dan pelecehan lainnya setelah pengusiran ke Meksiko sendirian.
Pada bulan September, pemerintah menunjukkan pengabaian total terhadap hak untuk mencari suaka ketika agen imigrasi yang menunggang kuda menggunakan tali kekang panjang sebagai cambuk untuk mengontrol dan menghalangi sekitar 15.000 migran Haiti kulit hitam di Del Rio, Texas.
Sepanjang tahun 2021, pemerintahan Biden mengirim serangkaian penerbangan pengusiran ke Haiti, mengekspos sekitar 10.000 migran ke kondisi yang saat ini diakui pemerintah AS terlalu berbahaya untuk pemulangan yang aman dari warga Haiti yang sudah ada di AS.
Pada bulan Oktober, Human Rights Watch melaporkan dokumen Departemen Keamanan Dalam Negeri yang mengkatalogkan lebih dari 160 laporan internal tentang pejabat perbatasan AS yang secara fisik atau sebaliknya melecehkan pencari suaka dan menjadikan mereka pelanggaran proses hukum.
Sebelum pengadilan federal memblokir penghentian Protokol Perlindungan Migrasi era Trump oleh pemerintahan Biden, yang umumnya dikenal sebagai “ Tetap di Meksiko ”, sekitar 13.000 dari 70.000 orang yang kembali ke Meksiko telah diizinkan memasuki Amerika Serikat untuk mengejar klaim suaka mereka.
Tekanan diplomatik pemerintah terhadap Meksiko, Guatemala, El Salvador, dan Honduras untuk menghentikan arus migran mengakibatkan pelanggaran serius terhadap migran karena kebijakan AS, tetapi jauh dari perbatasan AS.
Setelah tingkat penahanan mencapai titik terendah dalam sejarah karena pelepasan yang dipicu oleh pandemi Covid-19, pemerintahan Biden secara dramatis meningkatkan jumlah orang yang ditahan karena alasan imigrasi dan juga meningkatkan jumlah yang ditempatkan pada monitor elektronik, yang memfasilitasi pengawasan invasif.
Menurut data terkini hingga Agustus 2021, Amerika Serikat memutuskan lebih dari 18.000 kasus suaka pada tahun fiskal 2021 (yang berakhir pada 30 September), di mana 63 persen ditolak suaka, 36 persen diberikan suaka, dan 1 persen diberikan suaka hukum yang berbeda. status. Terlepas dari keputusan pemerintah untuk menaikkan batas menjadi 62.500, hanya 11.445 pengungsi yang diterima di AS selama tahun fiskal 2021.
Kesehatan dan Hak Asasi Manusia
Pemerintah AS gagal mengekang penyebaran virus penyebab Covid-19 dan pada September 2021, pandemi tersebut telah menjadi peristiwa penyakit menular paling mematikan dalam sejarah negara itu, dengan total 676.000 kematian, 94 persen di antaranya adalah orang berusia di atas. 50 dan termasuk setidaknya 3.600 petugas kesehatan , kebanyakan dari mereka adalah orang kulit berwarna.
Rasisme struktural memengaruhi pengalaman orang-orang terhadap pandemi, dengan orang kulit hitam dan coklat lebih mungkin menderita penyakit parah dan meninggal akibat Covid-19, serta menghadapi hambatan tambahan terhadap vaksin. Pada bulan April, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit menyatakan rasisme sebagai ancaman serius bagi kesehatan masyarakat .
Sekolah di beberapa daerah ditutup selama satu tahun ajaran, jika tidak lebih lama, berdampak pada hampir 78 juta siswa. Siswa kulit berwarna sangat terpengaruh karena mereka cenderung menghadiri sekolah dengan sumber daya yang kurang baik dan memiliki akses internet yang lebih terbatas untuk sekolah jarak jauh.
Sementara itu, harga obat yang tidak diatur di AS telah menyebabkan krisis keterjangkauan obat esensial. Dan terlepas dari putusan pengadilan yang positif, komunitas Pribumi di Amerika Serikat terus menghadapi hambatan yang signifikan untuk mengakses layanan kesehatan yang memadai.
Hak Suara
Negara itu bergulat dengan tuduhan tak berdasar atas penipuan pemilu massal, penindasan yang terus berlangsung, dan pencabutan hak pemilih kulit berwarna , dan upaya merusak prosedur pemilu yang dibuat untuk memastikan setiap orang yang memenuhi syarat dapat dengan mudah memberikan suara dalam pemilu AS.
Setelah undang-undang hak suara yang komprehensif gagal melewati Senat AS pada bulan Juni, RUU kompromi, Undang-Undang Kebebasan Memilih, diperkenalkan pada bulan September. Juga tertunda adalah Undang-Undang Peningkatan Hak Suara John Lewis, yang dimaksudkan untuk memperbarui dan memulihkan Undang-Undang Hak Suara tahun 1965.
Kebijakan dan Dampak Perubahan Iklim
Secara historis, Amerika Serikat sejauh ini adalah negara yang paling berkontribusi terhadap krisis iklim yang menimbulkan banyak korban pada hak asasi manusia di seluruh dunia dan tetap menjadi salah satu penghasil emisi terbesar di dunia.
Presiden Biden mengumumkan dia akan memprioritaskan penanganan perubahan iklim, dan bergabung kembali dengan Perjanjian Paris pada hari pertamanya menjabat. Namun, target pengurangan emisi Amerika Serikat dalam rencana iklim nasionalnya , tidak cukup untuk memenuhi tujuan Perjanjian Paris untuk membatasi pemanasan global hingga 1,5°C di atas tingkat pra-industri, menurut Pelacak Aksi Iklim.
Jika komitmen semua negara berada dalam kisaran yang sama, pemanasan akan mencapai sedikit di bawah 2°C, yang berisiko membahayakan hak asasi manusia. Selanjutnya, meskipun pemerintahan Biden telah mengambil langkah signifikan untuk mengurangi emisi, Amerika Serikat tidak berada di jalur yang tepat untuk mencapai targetnya.
Gelombang panas, angin topan, dan peristiwa cuaca ekstrem lainnya yang terkait dengan iklim secara tidak proporsional berdampak pada populasi yang terpinggirkan di Amerika Serikat. Pihak berwenang belum cukup melindungi populasi yang berisiko termasuk orang hamil, penyandang disabilitas, dan lansia dari dampak yang dapat diperkirakan tersebut .
Kesehatan dan Hak Perempuan dan Anak Perempuan
Kurangnya akses ke asuransi dan perawatan kesehatan berkontribusi pada tingkat kematian ibu dan kanker serviks yang lebih tinggi daripada di negara-negara yang sebanding, dengan perempuan kulit hitam meninggal pada tingkat yang lebih tinggi.
Presiden Biden mengeluarkan memorandum presiden tentang perlindungan kesehatan perempuan pada 28 Januari, membatalkan tindakan pemerintahan Trump yang mempersulit perempuan untuk berbicara secara bebas dengan dokter, mengakses layanan kesehatan, dan mendapatkan informasi kesehatan.
Pada 8 Maret, Biden mengeluarkan perintah eksekutif untuk membentuk Dewan Kebijakan Gender Gedung Putih yang bertugas meningkatkan akses ke perawatan kesehatan komprehensif, mengatasi kesenjangan kesehatan, dan mempromosikan kesehatan dan hak seksual dan reproduksi, di antara tujuan-tujuan lainnya . Pada 22 Oktober 2021, dikeluarkan strategi nasional tentang kesetaraan dan kesetaraan gender.
Negara terus melewati pembatasan aborsi yang semakin ekstrim. Undang-undang yang berbahaya di sebagian besar negara bagian AS memaksa anak muda di bawah 18 tahun untuk melibatkan orang tua dalam keputusan aborsi mereka, atau pergi ke pengadilan untuk menerima jalan pintas yudisial. Undang-undang ini dapat menunda atau mencegah akses ke perawatan. akses ke perawatan.
Pada bulan September, undang-undang baru di Texas secara efektif melarang hampir semua aborsi setelah enam minggu kehamilan, sebelum kebanyakan orang mengetahui bahwa mereka hamil, tidak terkecuali pemerkosaan atau inses.
Pada saat penulisan, undang-undang tersebut tetap berlaku setelah Mahkamah Agung menolak untuk memblokir undang-undang tersebut sebagai tanggapan atas permohonan darurat; tantangan kedua menunggu di depan pengadilan.
Pada saat penulisan, Mahkamah Agung dijadwalkan untuk mendengar argumen lisan di Dobbs v. Jackson Women’s Health Organization , sebuah kasus mengenai larangan aborsi Mississippi yang dapat berdampak signifikan terhadap hak aborsi di Amerika Serikat. Sebuah keputusan diharapkan pada tahun 2022.
Karena akses aborsi di beberapa negara bagian menjadi lebih ketat, Food and Drug Administration mengeluarkan izin pada bulan April untuk mifepristone, obat yang digunakan dalam aborsi medis, untuk diresepkan dan diberikan melalui pos selama pandemi.
Hak Disabilitas
Kekerasan polisi terhadap penyandang disabilitas Kulit Hitam dan Latin (terutama orang dengan kondisi kesehatan mental, tetapi tidak secara eksklusif) berlanjut pada tahun 2021, sebagian karena kurangnya layanan dukungan berbasis komunitas untuk krisis kesehatan mental. Illinois dan California mengeluarkan undang-undang untuk mengatasi kekhawatiran yang berkembang.
Hak Lanjut Usia
Hingga September, sekitar sepertiga dari kematian akibat Covid-19 terjadi di fasilitas perumahan jangka panjang. Ada juga kekhawatiran serius tentang pelecehan dan penelantaran di panti jompo selama pandemi. Kekurangan staf, masalah lama, dan pembatasan pengunjung keluarga, yang sering membantu staf, mungkin telah menyebabkan pengabaian dan penurunan.
Pada bulan Juni, Centers for Medicare and Medicaid Services membatalkan aturan administrasi Trump yang membatasi denda uang untuk pelanggaran panti jompo tertentu. Kongres mempertimbangkan rancangan undang-undang untuk meningkatkan akuntabilitas panti jompo, mengatasi pelecehan lansia , memperluas layanan berbasis rumah dan komunitas, danmeningkatkan upah dan tunjangan pekerja perawatan langsung .
Orientasi Seksual dan Identitas Gender
Pemerintahan Biden mengambil langkah cepat untuk memulihkan hak yang dibatasi oleh pemerintahan Trump, menginstruksikan badan federal untuk memerangi diskriminasi berdasarkan orientasi seksual dan identitas gender. Pemerintah juga mengeluarkan memorandum untuk memajukan hak asasi manusia kaum LGBTI dalam kebijakan luar negeri AS, dan mencabut larangan militer transgender yang diskriminatif .
Anggota parlemen di negara bagian AS memperkenalkan lebih dari 110 RUU yang menargetkan orang-orang transgender, terutama anak-anak transgender, yang mengancam kesehatan dan hak-hak mereka. Alabama, Arkansas, Florida, Mississippi, Montana, Tennessee, Texas, dan West Virginia memberlakukan undang-undang yang melarang anak-anak trans berpartisipasi dalam olahraga sesuai dengan identitas gender mereka.
Arkansas dan Tennessee memberlakukan undang-undang yang mencegah anak-anak dan remaja mendapatkan perawatan kesehatan yang menegaskan gender. Senat tidak mengesahkan Undang-Undang Kesetaraan, yang secara tegas akan melarang diskriminasi berdasarkan orientasi seksual dan identitas gender di bawah berbagai undang-undang hak sipil federal.
Keamanan nasional
Pada 6 Januari, perusuh bersenjata yang didorong oleh Presiden Trump saat itu masuk ke Capitol AS dalam upaya untuk mengganggu sertifikasi penghitungan suara untuk pemilihan presiden. Lima orang tewas dan lebih dari 600 orang telah didakwa dalam serangan itu. Para perusuh termasuk supremasi kulit putih dan anggota milisi anti-pemerintah, dan menunjukkan bahwa ekstrem kanan tetap menjadi ancaman keamanan domestik utama .
Pemerintahan Biden mengumumkan akan meninjau kerangka hukum dan kebijakan yang mengatur penargetan mematikan tersangka terorisme di luar negeri, tetapi tinjauan itu belum dipublikasikan. Pada tanggal 29 Agustus, dua hari setelah pemboman bunuh diri di bandara Kabul yang diklaim oleh Negara Islam Provinsi Khorasan (ISIS-K atau ISKP) yang menewaskan sedikitnya 170 warga Afghanistan dan 13 tentara AS, AS melancarkan serangan pesawat tak berawak pada mobil yang diklaimnya penuh dengan bahan peledak menuju ke bandara.
Pada 17 September, Departemen Pertahanan mengakui bahwa serangan itu adalah “ kesalahan tragis ”, yang menewaskan 10 warga sipil termasuk tujuh anak. Menyusul penyelidikan, AS menyimpulkan bahwa tidak ada “kelalaian kriminal di antara personel militer” yang terlibat dalam operasi tersebut. AS mengumumkan akan memberikan “ uang belasungkawa ex gratia ” kepada keluarga korban.
Presiden Biden berjanji untuk mengakhiri penahanan di Teluk Guantanamo tetapi AS hanya membebaskan satu tahanan pada tahun 2021. Tiga puluh sembilan orang tetap ditahan pada saat penulisan: 10 dituntut oleh komisi militer dan dua menjalani hukuman.
Sementara beberapa sidang praperadilan sebelum komisi militer Guantanamo yang cacat dilanjutkan pada bulan September setelah penundaan yang lama, tidak ada persidangan yang diharapkan sampai tahun 2022, termasuk untuk lima tersangka komplotan 11 September.
Kebijakan luar negeri
Setelah menjabat, pemerintahan Biden mengumumkan komitmennya pada kebijakan luar negeri ” yang berpusat pada pertahanan demokrasi dan perlindungan hak asasi manusia “, serta untuk meningkatkan kerja sama multilateral. Amerika Serikat terpilih kembali ke Dewan Hak Asasi Manusia PBB, dan bergabung kembali dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Kesepakatan Iklim Paris.
Pada April 2021, Presiden Biden mencabut sanksi terhadap pejabat senior Pengadilan Kriminal Internasional (ICC), tetapi menentang investigasi ICC yang dapat mencakup pengawasan terhadap perilaku warga negara AS dan Israel. AS menjadi tuan rumah KTT untuk Demokrasi yang dimaksudkan untuk mendorong komitmen negara-negara yang diundang tentang hak asasi manusia, antikorupsi, dan antiotoritarianisme.
Pemerintahan Biden mencabut Kebijakan Melindungi Kehidupan dalam Kesehatan Global , juga dikenal sebagai “Aturan Lelucon Global”, yang merusak kesehatan dan hak seksual dan reproduksi secara global. Ia juga berkomitmen untuk memulihkan pertimbangan kesehatan reproduksi dan hak-hak untuk laporan hak asasi manusia global tahunannya.
Utusan Khusus AS untuk Memajukan Hak Asasi Manusia Orang LGBTQI+ diangkat, posisi kosong sejak 2017. Menteri Luar Negeri Antony Blinken menolak temuan Komisi Departemen Luar Negeri untuk Hak-Hak yang Tidak Dapat Dicabut sebuah inisiatif administrasi Trump yang mengadvokasi pendekatan hierarkis terhadap hak asasi manusia mencatat bahwa hak asasi manusia “saling tergantung” dan tidak dapat diurutkan.
Sementara pemerintahan Biden mengadopsi keputusan administrasi Trump tentang genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan oleh pemerintah China atas perlakuannya terhadap Uyghur, pemerintah tidak mengumumkan keputusan hukum tentang pelanggaran militer terhadap Rohingya di Myanmar atau pelanggaran yang dilakukan di wilayah Tigray di Ethiopia.
Amerika Serikat mendesak Dewan Keamanan PBB untuk membahas krisis kemanusiaan dan hak asasi di Myanmar dan Tigray, tetapi pada saat penulisan, belum meminta dewan untuk memberlakukan embargo senjata atau sanksi PBB terhadap mereka yang bertanggung jawab atas pelanggaran.
Amerika Serikat mengejar sanksi atas berbagai pelanggaran hak asasi manusia. Menanggapi penggunaan kerja paksa oleh China dan pelanggaran lain terhadap orang Uighur di Xinjiang, pemerintahan Biden mengeluarkan peringatan penasehat bahwa perusahaan AS yang melakukan bisnis di wilayah tersebut menjalankan “risiko tinggi melanggar undang-undang AS.”
Pemerintah memberlakukan sanksi terhadap pejabat dan perusahaan China dan Hong Kong atas tindakan keras terhadap demokrasi di Hong Kong. Di Myanmar, pemerintah menjatuhkan sanksi pada junta setelah kudeta Februari. AS mengambil tindakan serupa terhadap Belarusia, Kuba, dan Nikaraguadalam menanggapi pemerintahan yang semakin otoriter dan pelanggaran hak.
Presiden Biden juga mengeluarkan perintah eksekutif yang mengizinkan sanksi AS terhadap individu yang melakukan pelanggaran dalam konflik Ethiopia dan menghentikan status perdagangan Ethiopia di bawah Undang-Undang Pertumbuhan dan Peluang Afrika (AGOA) karena pelanggaran hak asasi manusia.
Pemerintahan Biden tidak menjatuhkan sanksi kepada Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman setelah rilis laporan intelijen AS yang menyimpulkan bahwa dia menyetujui pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi tahun 2018. Pada bulan Juli, Presiden Biden meluncurkan strategi AS untuk mengatasi akar penyebab migrasi di Amerika Tengah, termasuk mempromosikan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Dampak strategi ini terbatas.
Presiden Biden mengumumkan penarikan penuh pasukan AS dari Afghanistan tanpa memastikan bahwa warga Afghanistan yang diterima di bawah program Visa Imigran Khusus (SIV) dan orang lain yang berisiko akan dievakuasi dan dimukimkan kembali.
Pada tanggal 15 Agustus, Taliban menyelesaikan pengambilalihan cepat Afghanistan dan pemerintah yang didukung AS, menciptakan kondisi kacau dan berbahaya bagi warga Afghanistan yang takut akan pembalasan Taliban. AS mengevakuasi lebih dari 60.000 warga Afghanistan, banyak di antaranya pernah bekerja secara langsung dengan pemerintah AS atau organisasi AS, tetapi ribuan pembela hak asasi manusia, jurnalis, dan lainnya yang tertinggal tetap dalam bahaya.
Status hukum di luar negeri dari banyak warga Afghanistan lainnya yang dievakuasi masih belum jelas. AS juga dievakuasiribuan warga Afghanistan yang telah bekerja untuk pasukan penyerang yang didukung CIA, termasuk beberapa yang dituduh melakukan eksekusi singkat dan pelanggaran lainnya.
Pemerintahan Biden mengejar penjualan senjata dan bantuan keamanan ke negara-negara dengan catatan hak asasi manusia yang buruk. Meskipun Amerika Serikat berjanji untuk mengakhiri penjualan senjata ofensif ke Arab Saudi dan UEA karena peran mereka dalam perang di Yaman, Amerika Serikat mengejar kesepakatan senjata dengan kedua pemerintah.
Pemerintahan Biden mengesahkan penjualan senjata lebih dari $2,5 miliar ke Filipina dan meminta $1,3 miliar bantuan keamanan ke Mesir meskipun hak asasi manusia di kedua negara memburuk. Presiden Biden juga mengabaikan undang-undang kongres yang mewajibkan $300 juta bantuan keamanan AS ke Mesir untuk dikondisikan pada hak asasi manusia, menahan hanya $130 juta meskipun pelanggaran terus berlanjut.
Amerika Serikat mendanai tambahan $735 juta dalam penjualan senjata ke Israel atas komitmen tahunan $3,8 miliar, bahkan ketika pasukan Israel menggunakan senjata buatan AS dalam serangan udara Mei di Gaza yang melanggar hukum perang dan tampaknya merupakan kejahatan perang.
Pemerintahan Biden menyatakan kesediaannya untuk kembali mematuhi Rencana Aksi Komprehensif Gabungan 2015 jika Iran melakukan hal yang sama. Pada saat penulisan, AS dan Iran telah sepakat untuk melanjutkan pembicaraan multilateral pada akhir November. Sanksi luas AS terhadap Iran tetap berlaku.
Akankah Hak Asasi Manusia di Tiongkok Menjadi Korban Brexit?
Akankah Hak Asasi Manusia di Tiongkok Menjadi Korban Brexit? – Pemerintah Inggris mempersiapkan diri untuk membebaskan negaranya dari “belenggu” hukum Eropa dan membuka jalan bagi bisnis ala Inggris; tetapi hak asasi manusia dan “ancaman asing” menghalangi.
Akankah Hak Asasi Manusia di Tiongkok Menjadi Korban Brexit?

nhri – Sementara mengklaim memiliki kepentingan terbaik Inggris saat mereka mempertimbangkan menghabiskan £ 400 miliar uang pembayar pajak untuk pengadaan publik pasca-Brexit, menteri pemerintah diserang karena “tertidur di belakang kemudi” karena kamera pengintai China membumbui aula kekuasaan dan setiap sudut jalan tanah.
Tidak hanya masalah keamanan yang jelas, klaim para juru kampanye, tetapi terus menggunakan teknologi Hikvision, yang pertama kali bereksperimen pada orang Uighur yang ditahan secara ilegal di jaringan luas kamp interniran yang tersebar di provinsi Xinjiang, akan menjadi bencana hak asasi manusia.
Penolakan pemerintah terhadap amandemen House of Lords terhadap RUU Pengadaan baru untuk menetapkan jadwal pembongkaran kamera Hikvision dan Dahua yang secara langsung terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia di Tiongkok telah membuat marah anggota parlemen dan kelompok hak asasi manusia.
David Alton, menulis dalam publikasi internal pemerintah Inggris, “The House,” mencantumkan katalog intrusi China ke dalam infrastruktur Inggris yang harus segera ditangani. Dan RUU Pengadaan adalah tempat yang tepat untuk memulai.
“Apakah bahaya itu ditimbulkan oleh teknologi produksi China yang digunakan untuk pengawasan atau spionase; alat pelacak di mobil menteri; kamera keamanan PKC di gedung-gedung pemerintah; meluasnya penggunaan drone buatan China oleh pasukan polisi Inggris; atau kemitraan antara universitas Inggris dengan institusi China; apakah itu bahaya infiltrasi di dalam Istana Westminster sendiri disorot oleh pengungkapan M15 tahun lalu tentang Christine Lee atau risiko TikTok, kami telah tertidur di belakang kemudi, ”katanya, mengecam kecerobohan para menteri atas China.
Perdagangan bebas dan globalisasi telah dihalangi oleh meroketnya proteksionis Beijing dan momok negara adidaya industri menonjolkan masalah pengadaan dan kepentingan bisnis. “ Era emas ” dalam hubungan Inggris-Tiongkok telah benar-benar berakhir. Anggota parlemen terus berselisih dengan para menteri tentang apakah China adalah “ancaman” atau hanya “tantangan”, banyak yang lebih memilih untuk tetap waspada dan menjaga jarak dengan raksasa itu.
Tapi gemuruh pedang Perdana Menteri Rishi Sunak sebelumnya telah mereda setelah pemilihannya sebagai kepala pemerintahan Inggris, dan dia telah menurunkan retorikanya dari “negara yang bermusuhan” menjadi “tantangan sistematis.” Para menteri terpecah karena mengorbankan hubungan perdagangan yang baik dengan Beijing demi beberapa masalah hak asasi manusia yang “tidak nyaman” .
Mantan Kanselir Lord Philip Hammond berbicara pada jamuan makan malam Festival Musim Semi China yang diselenggarakan bersama oleh Klub Grup 48 Inggris, Kamar Dagang China di Inggris, dan Dewan Bisnis China-Inggris, menekankan perlunya untuk terus maju dengan perdagangan bebas terlepas dari perbedaan.
“Mari kita fokus bukan pada apa yang memisahkan kita tetapi pada apa yang mempersatukan kita, untuk mewujudkan perdagangan bebas dan adil, untuk mendorong keterbukaan timbal balik terhadap investasi,” katanya, seperti dilansir corong pemerintah China, China Daily.
Sherard Cowper-Coles, ketua Dewan Bisnis China-Inggris, mewakili 500 perusahaan besar dan kecil, yang berurusan dengan negara adidaya, telah sering menghindari masalah hak asasi manusia demi perdagangan, dan bahkan sejak Februari 2021 telah mempresentasikan anggotanya dengan pilihan untuk menjadi “miskin dan murni” atau kesepakatan mogok dengan pelanggar hak asasi manusia. Pada perayaan Tahun Baru ini, dia kembali terdengar mengadvokasi perlunya “pendekatan orang dewasa untuk terlibat dengan kedua negara kita”.
Proses membahas detail RUU Pengadaan baru yang akan mendukung kepentingan bisnis Inggris ke depan, dimulai musim semi lalu di House of Lords. Haruskah dana publik dicemari dengan momok kerja paksa, pengambilan organ, dan sistem pengawasan yang diuji efisiensinya terhadap warga Uyghur yang ditahan secara ilegal di jaringan luas yang disebut “Kamp Pelatihan Kejuruan” di Xinjiang ? Ini adalah pertanyaan di bibir beberapa rekan yang peduli dengan integritas moral RUU tersebut.
Membuat jalan sekarang sampai ke tahap akhir Komite Commons untuk mengerjakan cetakan kecil sebelum muncul lagi di House of Commons, jelas bahwa keretakan tumbuh antara Menteri dan anggota parlemen.
Ketika ditanyai oleh Komite Hak Asasi Manusia tentang bahaya Hikvision, Dahua, dan peralatan pengawasan China serupa di seluruh Inggris, Komisaris Kamera Biometrik & Pengawasan, Prof. Fraser Samson mengatakan perusahaan seperti Hikvision, yang terlibat dalam negara yang melakukan genosida atau perbudakan modern, berdampak pada manusia di Inggris. pemenuhan hak.
Baca Juga : lembaga Hak Asasi Manusia Nasional
Diwawancarai oleh Daily Mail, Profesor Sampson memperingatkan risiko keamanan yang terkait dengan kontrol PKT terhadap semua perusahaan Tiongkok di luar negeri. Dia tidak mengerti mengapa pasukan polisi di Inggris terus mengerahkan peralatan tersebut sambil tetap menyadari bahayanya. “Ada banyak berita dalam beberapa hari terakhir tentang betapa kita harus khawatir tentang balon mata-mata China setinggi 60.000 kaki di langit.
Saya tidak mengerti mengapa kita tidak begitu peduli dengan kamera China 6 kaki di atas kepala kita di jalanan dan di tempat lain,” katanya. Profesor Sampson memperingatkan pemerintah Inggris bahwa terus menggunakan peralatan ini, dan penghapusan amandemen Lord untuk melarangnya, akan melanggar kewajiban perjanjian hak asasi manusia internasional.
“Saat PKT terus mengancam keamanan kami, kami perlu meningkatkan permainan kami,” kata David Alton . “Ini mengganggu saya bahwa ketika, atas dasar keamanan nasional, sekutu Lima Mata kita yang paling penting melarang keterlibatan rezim Tiongkok dalam telekomunikasi, kamera pengintai, dan stasiun tenaga nuklir, Inggris sebagian besar mengikuti uang, mengurangi ketahanannya dan meningkatkan ketergantungannya pada Tiongkok. ”
Dia mendesak pemerintah untuk mempertimbangkan untuk mengembalikan amandemen Lords #65 tentang penghapusan kamera Hikvision di Inggris Raya. Semua mata akan tertuju pada tahap berikutnya dalam RUU dan semangat pingpong yang tak terelakkan di Musim Semi mengenai detail dengan para Penguasa.







